,

AKROBAT PUASA (1)

Anis Sholeh Ba’asyin

Ramadhan tahun ini memang terasa agak lain, setidaknya bagi saya. Ada saja orang ‘ajaib’ yang tiba-tiba nyelonong bertamu ke rumah. Baru sepertiga Ramadhan saja, sudah tiga mahluk ajaib yang mampir.

Yang pertama, seorang lelaki agak muda, sekitar empat puluh lima tahunan, tinggi besar, berewokan. Wajahnya bersih, putih, tapi pakaiannya kumal dan berdebu seperti habis berjalan jauh.

“Saya dari timur, mau ke barat. Kebetulan lewat..” katanya membuka pembicaraan setelah saya persilakan duduk. Suaranya lembut dan halus. Kebetulan saya dan beberapa kawan sedang ngobrol di ruang tamu yang sekaligus jadi semacam mushola.

“Nama saya Abdullah. Saya diberitahu orang untuk mampir kesini…” lanjutnya.

“O ya? Alhamdulillah. Mungkin ada yang bisa saya bantu?” Saya sedikit berbasa-basi.

“Jelas sampeyan tidak sanggup membantu…”

Saya benar-benar terkejut. Kurang ajar betul ini orang. Belum kenal, tapi omongannya langsung memanaskan kuping.

“Saya kesini bukan mencari bantuan, apalagi sampah dunia bernama uang” sambungnya.

Wah, ternyata bukan cuma kurang ajar, tapi sombong benar dia. Saya dan kawan-kawan saling berpandangan, merasa aneh dengan lagak tamu yang satu ini.

“Begini Mas, saya belum kenal sampeyan…”

“Saya Abdullah! Dari timur ke barat…” sahutnya memotong kalimat saya.

“Ya, saya tahu, tapi saya…”

“Sudah kenal!” sekali lagi dia potong kalimat saya, meski tetap dengan suaranya yang lembut dan halus.

Masya Allah, saya mulai kuatir. Jangan-jangan….ah, saya mencoba mengusir jauh-jauh pikiran buruk yang sempat melintas di kapala.

“Saya tidak gila. Jangan berpikir macam-macam!”

Saya merasa ditembak langsung.

“Sudah buka puasa Mas?” tanya saya sekenanya, untuk menutup salah tingkah yang beberapa detik sempat menyerang saya.

“Hidup saya adalah puasa. Buka saya nanti saat malaikat maut datang”

Waduh, habislah saya.

“Lantas, apa maksud Mas mampir kesini?” tanya seorang kawan saya.

“Memberi kabar” jawabnya pendek.

“Kabar? Kabar apa?” tanya saya kebingungan.

“Bahwa kalian tidak pernah benar-benar sanggup berpuasa. Mulut kalian terlalu cerewet, tangan kalian terlalu usil”

“Maksudnya?”

“Kalian sudah menghapus Allah dari kesadaran”

“Ini arahnya kemana?”

“Tidak kemana-mana, tapi ke hidup kalian sendiri”

“Hidup kami?”

“Ya. Kalian membaca tapi tidak pernah membaca!”

“Membaca apa?”

“Kitab kalian sendiri”

“Al Qur’an maksudnya?”

“Ya. Kalian baca: semua akan diuji. Tak ada iman tanpa ujian”

“Terus, apa hubungannya?”

“Coba baca: Bani Israil dilarang bekerja di hari Sabtu. Allah memberi ujian: tiap Sabtu banyak ikan; selain Sabtu, ikan malah sulit dicari”

“Saya tahu. Kaitannya dengan puasa?”

“Baca sendiri. Di uji sedikit saja, mulut kalian sudah berbusa-busa dan tangan kalian sudah gatal”

“Itu kan aksi reaksi?”

“Ya, artinya kalian tak beda dengan apa yang diungkap Allah tentang bani Israil tadi. Baik kalian berjubah atau bersarung, bersurban atau berkopiah; isinya sama.”

Saya dan kawan-kawan terbengong-bengong.

“Puasa itu sabar, itu kalau kalian benar-benar beriman. Allah tidak pernah lepas dari apapun. Ini baca!”

Dia menyorongkan Al Qur’an yang kebetulan ada di dekat tempat duduknya. Surat  Al-Kahfi ayat 65-82 yang dia tunjuk. Saya dan kawan-kawan merubung untuk membaca. Isinya tentang perjalanan Nabi Musa bertemu Nabi Khidr.

Begitu selesai, kami baru sadar bahwa orang tadi sudah menghilang, entah kemana perginya.

(Bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…