in

AKU SAKIT, KENAPA TAK KAU TENGOK?

Anis Sholeh Ba’asyin

“Aku sakit, kenapa kau tak datang menengokKu?” Musa alaihi salam tertegun-tegun dengan sapaan Allah yang tak biasa ini.

“Maha Suci Engkau ya Allah, bagaimana Engkau bisa sakit? Dimana pula aku bisa datang menengok?” jawab Musa alaihi salam kebingungan.

“Tetanggamu sakit, tengoklah dan akan kau temui Aku disana!”

Jadi, kalau kau tak ingin disentilNya seperti Musa alaihi salam, datanglah ke tempat-tempat manusia berkubang derita dan kesakitan. Dan, kalau kau benar-benar merindukanNya, alasan apa yang membuatmu tak bersegera menemuiNya? Bukankah seseorang baru boleh disebut beriman, setelah ia menyerahkan diri dan hartanya untuk Allah? Kenapa pintuNya yang selalu lebar dibuka ini tak pernah kau masuki? Kenapa tanganNya yang selalu luas dibentangkan ini tak pernah kau sambut? Bukankah ini aqobah, jalan menanjak, yang ditawarkan padamu untuk mendakinya?

Sedang kalau ada tetanggamu yang berduka karena ditinggal sanak-saudara saja, kau diwajibkan menemani hari-harinya; sampai ia pulih dari kedukaannya. Kini bukan cuma satu dua tetanggamu yang berduka; tapi jutaan saudaramu setiap hari dikepung air mata dan derita di tengah dunia yang dicitrakan makin berkilau saja.

Maka kau bukan saja wajib menemani dan melipur dukanya, memenuhi makan minum sehari-harinya; tapi kau juga wajib menyembuhkan sakit tubuhnya, melipur keguncangan jiwanya dan membangun kembali jalan hidupnya. Seperti kaum Muhajirin dan Anshor yang tak ragu menerima perintah Rasulullah untuk berbagi kekayaan, kau juga tak boleh ragu berbagi kekayaan dengan mereka; berbagi kekayaan agar mereka bisa bangkit dari kejatuhan dan membangun kembali harga diri mereka.

Dan kalau kau bermaksud mengulang hajimu, atau malah sekedar umrohmu, tunda dulu niatmu. Berikan dananya untuk mereka; hajimu justru akan mabrur dan kau akan di temuiNya disana. Abdullah ibn Mubarak mabrur hajinya, padahal dia tak pernah berangkat ke Mekkah. Harta yang dikumpulkannya bertahun-tahun untuk berhaji, keseluruhannya diberikan kepada seorang janda beranak pinak yang makan pun tak bisa. Ketersentuhannya pada penderitaan, membuat ia melepas keinginannya berhaji; dan hajinya justru mabrur karena ketulusannya menyelamatkan sesama.

Kalau kau ingin merenovasi masjid, atau apa saja yang berkait dengan pemewahan peribadatan; singkirkan nafsumu ini. Berikan uangnya untuk mereka yang menderita; maka kau telah membangun bukan cuma satu, tapi berjuta masjid yang tak akan pernah dihancurkan zaman, dan dengan begitu kau justru benar-benar telah membangun rumah bagi Allah di bumi yang nestapa ini. Allah tak pernah butuh kemewahan, nafsumu ingin dipuji sesamalah yang selama ini membuatmu berlebih-lebihan. Rasulullah dan Bani ‘Auf membangun masjid pertama yang sederhana di Quba, dan dipuji Allah bukan karena kemegahannya, tapi karena keikhlasan membangun dan hati yang penuh kasih sayang yang menjadi fondasinya.

Kalau kau ingin menegakkan agama, jangan cuma sibuk bicara dan ribut memperebutkan kedudukan. Agama tidak pernah tegak karena lembaga-lembaga, tapi karena amal-amal nyata merengkuh mereka yang dalam penderitaan luar biasa. Rasul-rasul menegakkan agama dengan cinta dan karya nyata bagi mereka yang hidupnya terhina; Rasul-Rasul tidak pernah menempatkan soal lembaga dan tetek bengek prosedur dunia lainnya sebagai prioritas utama. Prioritas utama mereka adalah melayani Tuhan dan mengasihi hamba-hambaNya, apapun resikonya.

Kalau kau sungguh ingin mencecap ilmuNya, jangan cuma sibuk membolak-balik kitab atau berdebat soal penerapan, soal pemurnian atau pembaruan, soal metodologi atau hermeunetik penafsiran, soal lokal-parsial atau universalitasnya ajaran, soal konservatif atau liberalnya pemikiran; tapi menyelamlah di kedalaman penderitaan, dan akan kau temukan kesejatian agama sebagai percakapan dengan Allah, dan kau akan dituangi ilmu-ilmuNya yang sebelumnya tak terbayangkan.

Agama bukan ilmu-ilmu yang selama ini kau agung-agungkan, yang kau bungkus dalam paket-paket yang lantas kau sangka sebagai kebenaran; agama adalah ilmu Allah yang tak pernah bisa dibahasakan kecuali sekedar sebagai tanda-tanda, yang hanya bisa kau hirup dan kenali maknanya dalam tindakan persatuan. Jadi bergegaslah ke wilayah-wilayah penderitaan, wilayah dimana ilmuNya yang selama ini menuntun para Rasul, para Nabi, para Wali, yang luas dihamparkan.

Jadi, apalagi yang kau tunggu? Kenapa yang kau pilih justru selalu ‘jalan menurun’, jalan yang hanya membuatmu seolah beragama, yang memberimu kepuasaan seolah sudah melakukan kebaktian, tapi sebenarnya justru sedang merontokkan kesejatian keberagamaan?

Maka, sambutlah panggilanNya, terjunlah ke kenyataan yang hari-hari ini banyak dipalsukan, ke degup rakyat yang diyatim-piatukan oleh pencitraan, ke penderitaan yang malah dibajak oleh para tukang sulap, ke tangisan dan bahkan teriakan yang tak pernah disuarakan media manapun karena dianggap tak menguntungkan!

Atau, kau memang dengan sadar sedang memilih diperhinakan, sehingga selalu membuta-tuli terhadap panggilanNya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *