in

AMIN AMIN KYAI

Anis Sholeh Ba’asyin

Suatu hari KH. Muslim Rifa’i Imampuro atau akrab dipanggil Mbah Lim dari Klaten, bertamu ke rumah KH Abdullah Salam yang akrab dipanggil Mbah Dullah Salam di desa Kajen, Pati.

Setelah berbicara sebentar, lantas Mbah Lim menyodorkan stopmap, berisi doa dan resep-resep penyelesaian masalah bangsa yang beliau tulis, dan meminta Mbah Dullah Salam untuk berdoa.

“Saya tidak bisa berdoa!” kata Mbah Dullah Salam sangat lirih.

“Anda saja yang berdoa dan saya mengamini” lanjutnya sambil mengangkat kedua tangan, bersiap untuk mengamini doa Mbah Lim.

Tampaknya Mbah Lim tidak jelas mendengar ucapan tersebut, dan menyangka Mbah Dullah Salam mulai berdoa seperti yang dimintanya; sehingga ia pun segera mengangkat kedua tangan mengamininya.

Maka begitulah, Mbah Dullah Salam dan Mbah Lim kemudian sama-sama ber’amin-amin’, tanpa seorangpun yang mengucap doa. Dan karena tak ada yang mengucapkan doa, maka jelas tak ada juga yang mengakhiri doa.

Kalau kedua kyai besar tersebut bisa begitu khusyu’ saling mengamini tanpa sedikitpun menampakkan keletihan, tidak demikian dengan sopir yang menyertai Mbah Lim. Setelah hampir satu jam beramin-amin tanpa kejelasan kapan akhirnya, ia tidak lagi kuat menahan kelelahan tangannya yang harus terus terangkat untuk berdoa.

Dengan pelan-pelan ia mulai pasang kuda-kuda untuk beringsut mundur mendekati pintu ruang tamu. Dan, ketika melihat kesempatan, diapun segera kabur dari ruangan tersebut.

Setelah berhasil keluar, sopir tersebut segera mencari putra Mbah Lim yang waktu itu memang menjadi santri di pondok Mbah Dullah Salam. Pada putra Mbah Lim, diceritakannya peristiwa tersebut.

“Tolong Gus,” kata sopir tersebut pada putra Mbah Lim.

“Mbah Lim diberitahu bahwa Mbah Dullah Salam tidak berdoa tapi hanya mengamini, karena menyangka Mbah Lim-lah yang berdoa!”

Begitulah, mereka berdua lantas kembali masuk ke dalam ruang tamu. Ketika ada kesempatan, Mbah Lim segera dibisiki oleh putranya tentang masalah tersebut. Mbah Lim mengangguk-angguk, tanda bahwa beliau sudah menangkap pesan dari bisikan tersebut.

Tapi celaka, bukannya mengakhiri proses amin-mengamini tanpa doa ini, Mbah Lim justru terus melanjutkannya. Sang sopir yang sudah kelelahan mengangkat tangan untuk berdoa, harus bertambah lagi ‘penderitaan’nya, meski kali ini dia mengajak ‘korban’ baru untuk ikut merasakan kelelahan yang sama.

Lebih dari setengah jam kemudian, barulah Mbah Lim berinisiatif mengakhiri proses amin-mengamini yang tidak jelas siapa pendoanya ini.

Kisah tentang dua kyai besar yang kini sudah pulang ke rohmatullah ini tentu saja bisa melahirkan beragam tafsir. Apalagi kedua kyai besar tersebut juga dikenal sebagai wali Allah, sehingga, kecuali bisa mengundang senyum, kejadian tersebut dipercaya bukan ‘kecelakaan’ biasa karena punya makna lain yang sangat berwarna ‘langit’.

Kejadiannya sendiri terjadi di akhir tahun 90’an, dimana Indonesia sedang berada di puncak badai perubahan yang tak tertahan lagi. Dari kisah ini sebenarnya kita bisa langsung tahu, betapa banyak kyai-kyai sepuh yang dengan caranya sendiri tak pernah berhenti terlibat dalam merawat dan menjaga bangsa ini.

Meski demikian, ada sisi lain dari kisah ini yang juga menarik kita amati, yakni posisi sang sopir. Bolehlah dikatakan bahwa sang sopir adalah representasi kehadiran orang awam, rakyat kebanyakan, yang tak tahu menahu tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi, tapi mau tak mau secara langsung terlibat di dalam rentetan kejadian tersebut dan ikut menanggung segenap konsekuensinya.

Nah, dalam perspektif tafsir ‘bumi’ yang agak nakal ini, kita juga bisa membacanya sebagai bentuk anekdot tentang kebingungan rakyat menghadapi pemimpinnya. Bedanya, kalau dalam kisah diatas, sang sopir menanggung letih karena tak punya bingkai untuk memahami tindakan kyainya; maka dalam kaitan bangsa ini, rakyat bingung karena para pemimpinnya tak terpahami lewat bingkai manapun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *