in

APAKAH KITA BANGSA YANG DICINTAI ALLAH?

Anis Sholeh Ba’asyin

Ronggowarsito, pujangga besar terakhir dari Jawa, menggambarkan situasi zamannya sebagai kalatidha atau kalabendu, zaman bencana. Konon ini gambaran dari transisi hebat yang sedang terjadi di kerajaan Jawa, dimana pengaruh Belanda waktu itu sudah begitu kuat meruyak masuk ke segenap lini dan level kekuasaan.

Begitu putus asanya Ronggowarsito terhadap situasi zamannya, sampai-sampai dia mengatakan: sekalipun dipimpin raja yang adil dan menteri-menteri yang bijak, kalabendu tak akan bisa dihentikan.

Ada banyak sisi yang sebenarnya bisa dilihat dari pernyataan Ronggowarsito ini, salah satunya adalah: bahwa sistem-struktur-budaya sosial-ekonomi-politik yang tidak beres, rusak dan kotor, yang oleh Ronggowarsito dianggap telah melahirkan kalabendu; tidak cukup diubah dengan pergantian pemimpin saja.

Seorang pemimpin yang adil sekalipun akan bisa menjadi rusak, atau setidaknya akan dipersepsi sebagai ikut rusak bila dia dikitari dan hidup di tengah sistem-stuktur-budaya sosial-ekonomi-politik yang tak pernah berhenti memproduksi kerusakan. Pergantian pemimpin tidak menjamin berhentinya kalabendu, paling tidak begitulah yang diyakini Ronggowarsito.

Mungkin Ronggowarsito dengan halus sedang bicara dan menuntut dimulainya perubahan secara lebih mendasar, dengan penataan menyeluruh terhadap sistem-struktur-budaya sosial-ekonomi-politik yang berlaku; karena tanpa pemikiran dan upaya yang sungguh-sungguh untuk menjalankan semua ini, akan menyebabkan idiom perubahan terasa sebagai sekedar retorika artifisial yang tak akan mengubah kalabendu.

Mungkin karya Ronggowarsito yang paling populer dan karena itu sering dikutip orang -bahkan sampai sekarang- adalah Serat Kalatidha ini; terutama idiom zaman edan yang dipakai untuk menggambarkan masanya. Sekarang kita sering mendengar orang memakai idiom ini untuk juga menggambarkan kegerahannya terhadap perkembangan zaman, dan itu tidak salah.

Penggambaran Ronggowarsito terhadap masanya memang tetap terasa aktual untuk menggambarkan zaman kita. Mimpi-mimpi perubahan dan perbaikan yang tumbuh kembang seiring dengan pergantian kepemimpinan selama ini, belum juga menampakkan jejaknya dalam kenyataan. Bahkan, yang terasa justru kecenderungan untuk semakin terperosok dalam kalabendu.

Bukannya semakin berdaulat dan bermartabat, tapi kita justru merasa semakin terperangkap ke dalam sistem-struktur-budaya sosial-ekonomi-politik yang membuat kita kesulitan bernafas. Yang sangat menonjok kesadaran adalah kenyataan bahwa semakin kesini, semakin terasa bahwa kita tidak berkuasa atas nasib rumah sendiri.

Padahal, kalau kita jeli membacanya, justru masalah martabat dan kedaulatan inilah yang menjadi jantung kritik Ronggowarsito dalam karyanya tersebut: Raja dan kerajaan Jawa ada secara formal dan prosedural, tapi sudah kehilangan martabat dan kedaulatannya, Belanda-lah yang secara riil mengendalikan kekuasaan.

Apakah yang tersembunyi di balik ini semua? Benarkah ini adalah bencana, adalah adzab? Bagaimanakah menyikapinya?

Memang, kenyataan tak pernah harus terbaca secara tunggal. Selalu ada beragam cara baca -yang meski tak mesti sejalan satu sama lain- yang bisa dipakai untuk mengayakan perspektif kita terhadap kenyataan. Pembacaan kita terhadap bencana pun misalnya, tidak mesti menghasilkan keputus-asaan, karena dari sisi lain -paling tidak dari sisi ruhani- bisa juga menghasilkan tenaga harapan.

Apalagi, konon, orang yang sangat dicintai Allah pun akan selalu menuai banyak cobaan dalam hidupnya. Cobaan-cobaan yang berfungsi untuk memotong keterikatannya terhadap dunia dan mendorongnya untuk ‘terbang’ ke Tuhannya.

Sebagai ilustrasi, KH. Muslim Rifa’i Imampuro dari Klaten misalnya, saat sedang sakit sering berujar: “Kalau ini hukuman, alhamdulillah, karena ini akan menghapus dosa-dosa sehingga tidak perlu lagi menghadapi hukuman akhirat. Kalau ini cobaan, lebih alhamdulillah lagi, karena ini bukti cintaNya yang akan mengangkat derajat!”

Nah, kalau cara baca seperti ini yang kita pakai dalam menghadapi kenyataan, segalanya selalu tampak positif dan memberi harapan. Masalahnya: apakah kita memang begitu dicintaiNya, sehingga Dia menguyurkan hujan cobaan dari langit untuk mengangkat derajat kita? Ataukah ini memang hukuman yang dikirim untuk mengentaskan kita dari dosa bersama sebagai bangsa?

Atau, jangan-jangan selama ini kita malah telah berperan bak Iblis: melakukan beragam kejahatan, tanpa pernah merasa perlu mohon ampunan? Atau lebih gila lagi: jangan-jangan kita malah tak pernah merasakan apalagi menyadari ini semua, dan terus asyik masyuk berselancar dengan kepentingan syahwat?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *