Arsip Terkini

  • in

    PERADABAN QABIL

    Kekerasan selalu membuat kita termangu. Setelah sedemikian panjang sejarah dilalui, setelah sedemikian banyak mutiara kebijakan digali; sepertinya manusia tak pernah bisa melepaskan diri dari daya tarik naluri ‘primitif’nya: berbahasa dengan idiom kekerasan untuk mencapai tujuan. Bayangkan, hampir tiap hari kita semua dipaksa menyaksikan reportoar komedi gelap kemanusiaan. Reportoar yang mempertontonkan dengan telanjang wajah peradaban kita: […] More

  • in

    KYAI POLITIK DAN POLITIK KYAI

    Al-maghfurlah KH Abdullah Salam dari Kajen, Pati, adalah ulama yang semasa hidupnya selalu berusaha untuk mengambil jarak dari kekuasaan, lebih-lebih pusat kekuasaan. Setidaknya begitu yang tampak secara lahir. Banyak pimpinan nasional -baik di masa orde baru maupun ‘orde reformasi’- yang berusaha ‘sowan’ tapi selalu ditolak. Bahkan Gus Dur sekalipun -yang sebelumnya hampir selalu diterima- beliau tolak […] More

  • in

    TERSANDUNG OYOT MIMANG

    “Tampaknya bangsa ini sedang tersandung oyot mimang” celetuk seorang kawan seusai menghadiri dialog dengan para pakar keIndonesiaan. Oyot mimang atau akar mimang adalah sejenis akar tumbuhan yang dipercaya punya daya magis. Konon orang yang tersandung akar ini akan berputar-putar di sekitar akar tersebut. Kemanapun arah dia berjalan, pada akhirnya akan selalu kembali ke tempatnya semula. Di Jawa […] More

  • in

    ISLAM, NEGARA DAN ULAMA

    Konon, Imam Ali pernah berpesan agar sepeninggalnya kelompok Khawarij tidak lagi diperangi. Alasannya: mereka sekedar pencari kebenaran yang tersesat. Seperti diketahui, Khawarij adalah pengikut Imam Ali yang berbalik memerangi beliau. Ada dua sisi yang harus dipertimbangkan untuk memahami pesan ini. Pertama, pesan ini mesti dibaca sebagai ucapan khalifah (pemimpin pemerintahan) yang punya legalitas memerangi pemberontak. […] More

  • in

    MEMIMPIN ADALAH MENDERITA

    Memimpin adalah menderita, begitu yang sering diucapkan KH. Agus Salim. Dalam terminologi sufi, seorang wali adalah seorang yang menanggung beban penderitaan di wilayahnya (wali dalam terminologi sufi adalah pemimpin -seringkali dalam pengertian ruhani- yang melindungi semua yang hidup di wilayahnya). Secara lahiriah bisa jadi dia berada di puncak piramida sosial; tapi secara batiniah sudah pasti ia […] More

  • in

    BERGURU PADA CINTA IBRAHIM

    Selama ini kita selalu menyangka bahwa yang namanya manusia dan kemanusiaan berjalan setahap demi setahap, berevolusi ribuan tahun dari tingkatan rendah menuju kesempurnaan. Mungkin anggapan ini hanya benar sebagian. Tapi banyak juga bukti yang justru menegaskan bahwa yang terjadi sesungguhnya malah sebaliknya, yakni: degradasi, penurunan secara konstan. Atau -lebih tepat lagi- siklus turun dan naik […] More

  • in

    NGGANDULI SARUNG KYAI

    Mbah Madun, sapaan akrab untuk Kyai Muhammadun dari Kajen-Pati, semasa hidupnya -sampai akhir 50an- dikenal dengan tindakan-tindakannya yang sering ‘eksentrik’. Bayangkan, sebagai seorang kyai yang alim dan disegani di daerahnya, hampir tiap malam tanpa segan-segan dia keluar masuk tempat-tempat kumuh dan rawan, tak terkecuali tempat pelacuran. Bahkan, bila punya uang, tanpa malu dia akan membooking […] More

  • in

    DI ANTARA DUA JARI AR-RAHMAN

    Setiap menghadapi musibah yang dianggap dahsyat, baik sosial maupun individual, orang selalu terpancing untuk bertanya: dari sisi manakah kita mesti memandangnya? Apakah ini adzab, karena begitu lama kita mengabadikan kebutaan dan ketulian kultural, yang membuat kita sudah mirip kaum-kaum terdahulu yang sulit diselamatkan? Atau apakah ini hukuman, karena sekian lama kita telah hidup dalam ketololan […] More

  • in

    ZAMAN BAIK, ZAMAN BURUK

    Seorang ulama Yaman abad ke 18, Sayyid Abdullah Al Haddad, pernah mencoba mengklasifikasi kurun sejarah manusia dalam dua kategori: zaman baik dan zaman buruk. Zaman baik ditandai dengan muncul dan ‘berkuasa’nya ‘orang-orang baik’ dalam hampir segenap lini dan level kehidupan. Sementara zaman buruk, tentu saja, sebaliknya. Dalam perspektif tradisional, hanya kehadiran ‘orang-orang baik’ -yang diandaikan […] More

  • in

    DEMI BERHALA IDENTITAS

    Suatu malam, dari dalam rumah syaikh Juha terdengar suara pertengkaran hebat. Adu mulut sang syaikh dan isterinya yang makin lama makin bising ini, tentu saja mengganggu para tetangga. Dan ketika kebisingan ini berpuncak pada suara gaduh benda berat jatuh, para tetangga tak kuasa lagi menahan rasa penasarannya. Beramai-ramai, mereka segera mengetuk pintu rumah syaikh Juha. […] More