,

BATAL KOK PUASA?

Anis Sholeh Ba’asyin

Sumber: motipeacemaker.com

Beberapa hari saya bingung menyikapi teka-teki orang ajaib yang mengaku bernama Abdullah. Sejujurnya, saya merasa sama sekali tak punya kemampuan untuk mencerna pesannya.

Malam itupun, setelah Abdullah menghilang, kami malah berdebat karena berbeda dalam menafsirkan pesannya. Pertama, kami berdebat tentang sasaran pesan tersebut. Saya merasa bahwa pesan tersebut adalah untuk siapa saja yang mendengar. Tapi kedua kawan saya beranggapan bahwa pesan tersebut khusus ditujukan pada saya.

Karena tidak menemukan titik temu, kami menggeser topik. Kami mulai mempertanyakan kesahihan pesannya. Pertama tentang ayat hari Sabtu bagi bani Israil. Kami anggap ini agak mengada-ada. Kemungkaran, atau lebih jauh lagi: kejahatan, bukanlah ujian, tapi produk laku manusia yang harus kita lawan karena kita punya kekuatan.

Pada titik inipun kembali kami tak menemukan titik temu. Kami bertiga sibuk mengutip ayat, hadits atau peristiwa sejarah lainnya sebagai rujukan. Salah satu kawan mengatakan: ketika ada orang berpesan atau bekerja berdasar ayat tertentu, segera kita bandingkan dengan ayat lain yang kita anggap membawa pesan berbeda. Akibatnya kita malah sibuk berdebat dan luput mengamalkan apapun. Padahal, begitu menurutnya, perdebatan itu seringkali karena kita salah mengambil sudut pandang; bukan sudut pandang Al Qur’an itu sendiri, tapi sudut pandang ‘pengetahuan’ kita.

Karena buntu, akhirnya kami bubar tanpa kesepakatan apapun. Kami anggap, tak perlu serius membuang tenaga dan waktu untuk mengurus pesan yang kami anggap tidak jelas asal-usul dan tujuannya tersebut.

Saya sendiri, meskipun tetap menyimpan tanda tanya, mencoba melupakan kehadiran orang yang mengaku bernama Abdullah tersebut. Sampai, beberapa malam kemudian, saat sedang sendiri di mushola, seseorang memberi uluk salam dari depan pintu.

Saya persilakan dia masuk. Tampilannya mirip kelas menengah kota: celana panjang dan baju yang seperti habis diseterika, mengenakan jas yang terkesan mahal, juga arlojinya. Rambutnya rapi. Sosoknya tinggi kurus, wajahnya pucat dan umurnya sekitar akhir lima puluhan.

“Maaf, bapak siapa?” tanya saya membuka pembicaraan.

“Saya datang mewakili pemilik masjid” jawabnya singkat.

“Pemilik masjid? Maksudnya mewakili orang yang mewakafkan tanahnya untuk masjid?” tanya saya kebingungan.

“Terserah anda menafsirkannya” jawabnya singkat.

“Masjid mana?” selidik saya.

“Itu juga tidak penting-penting amat”

Wah, pikiran saya mulai melayang kemana-mana, dan kembali terbayang kehadiran orang yang mengaku bernama Abdullah beberapa malam lalu.

“Ada apa dengan masjid yang Bapak wakili?”

“Saya tidak mewakili masjid, tapi pemiliknya”

“Ya ya, maksud saya: ada apa dengan masjid yang pemiliknya Bapak wakili?”

“Sudah tidak jadi masjid lagi…”

“Lho, dibongkar? Dijadikan perkantoran, pasar, mall atau perumahan?”

“Lebih ramai lagi”

“Lebih ramai dari perkantoran, pasar, mall atau perumahan?”

“Ya”

“Apa?”

“Masih masjid”

“Nanti dulu, masih masjid? Tadi katanya tidak jadi masjid lagi?”

“Memang”

“Masjid tapi bukan masjid?”

“Ya”

“Kok bisa?

“Nalarnya tidak mungkin, tapi kenyataannya demikian”

“Saya belum paham”

“Karena anda berpikir kalau masjid pasti masjid”

“Memang ada masjid yang bukan masjid?”

“Banyak”

“Salah satunya”

“Bagaimana masjid menjadi masjid tanpa sujud?”

“Ah, jangan mengada-ada”

“Jejaknya mana?”

“Jejak apa?”

Simahum fii wujuhihim min atsaris sujud

“Maksudnya, dahinya harus menghitam semua?”

Dia terkekeh mendengar pertanyaan saya.

“Menurutmu, apa itu sujud?” tanyanya sambil masih terkekeh.

“Memosisikan kepala di tempat terendah”

“Kepala itu apa?”

“Yang dianggap paling mulia”

“Apalagi?”

“Tempat otak, dimana semua memori disimpan”

“Artinya, jejak sujud mestinya adalah tidak memulia-muliakan diri dan tidak mengandalkan pengetahuan yang memorinya disimpan di otak.”

“Ya! Mungkin…!”

“Itu belum seluruh ceritanya…”

“Maksudnya?”

“Salah satu bukti bahwa mereka tak bersujud adalah mereka bikin kelompok-kelompok dalam masjid. Masing-masing kelompok punya imam sendiri. Membangun kemah sendiri. Akhirnya masjid penuh kemah. Suara imam dan jamaah saling bersaing kerasnya, persis pasar malam…”

Mulut saya terbungkam, imaji saya melayang kemana-mana.

“Itu belum selesai. Bukannya merelatifkan kemuliaan dan pengetahuannya, mereka justru mengeraskannya. Masing-masing kemah akhirnya saling cek-cok, dilanjutkan saling lempar…Lanjutannya bisa kamu bayangkan sendiri,” lanjutnya sambil memandang ke kejauhan.

“Kalau sujud saja tak mampu, apalagi puasa…” suaranya lirih seperti bicara pada diri sendiri.

Kami terdiam. Tak lama kemudian dia pamit.

“Nanti dulu, saya belum mengenal anda…”

“Saya Abdullah, dari barat ke timur…kebetulan saja lewat dan mampir”

Saya tercekat dan nyaris kehilangan keseimbangan.

“Lho, mana sandal anda?” tanya saya melihat ia melangkah keluar tanpa alas kaki.

“Saya berjalan di dalam masjid, kenapa harus beralas kaki?” jawabnya sambil tersenyum.

 

(Bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…