in

HALAQAH SANTRI MBELER

Anis Sholeh Ba’asyin

“Yang waras, minggir!” geletar suara kyai Anom mengejutkan kami. Seperti biasa, dia bisa tiba-tiba saja nongol tanpa ada yang tahu kapan dia datang. Kami memang sering kurang waspada sehingga tak pernah bisa melihat dari mana arah datangnya; seringkali seperti mendarat dari langit, tahu-tahu dia sudah duduk bersandar di pojok gotha’an.

Manusia satu ini memang cenderung suka menabrak pagar kebiasaan, jenis manusia khoriqul adah yang gemar melawakkan banyak hal yang disembah-sembah orang. Sebenarnya kami tidak pernah sepenuhnya tahu latar belakangnya; informasi yang dia berikan pun cuma sepenggal-sepenggal, kadang malah melantur-lantur, sehingga bukan memperjelas tapi acapkali justru makin mengaburkan asal-usulnya.

Sementara suara yang beredar di luaran lebih kacau balau lagi, dan tak mungkin bisa jadi patokan. Ada yang bilang dia sebenarnya agak gila, yang lain bilang dia sedang tersesat, yang lain lagi bilang dia mencari tumpangan eksistensi, yang sana bilang dia orang yang sengaja menyusup, yang lebih sana lagi bilang dia mencari pelarian, yang sini bilang dia linglung, yang lebih sini bilang dia orang buangan. Pokoknya ada beribu versi yang diceritakan orang tentang dirinya; sehingga identitasnya macam toko serba ada dimana segala macam stempel bisa ditemukan.

Walhasil, kami segan pada dia hanya karena melihat kedekatan mbah Sirra pada manusia satu ini. Dia bisa dengan merdeka blusak-blusuk ke ndalem bahkan ke kamar mbah Sirra tanpa mengenal waktu. Kecuali itu, seringkali dia kami lihat berjam-jam berbicara berdua dengan mbah Sirra di kamar, sesuatu yang tak pernah dilakukan siapapun, apalagi oleh kami para santri. Suara tawanya yang lepas kadang terdengar bergema disela-sela pembicaraan mereka, sesuatu yang juga tak akan pernah berani dilakukan siapapun, apalagi oleh para santri.

“Kopi, kopi, kopi…” seru kyai Anom. Lik Cecep dengan sigap langsung menuju dapur. Mendengar suara kyai Anom, santri-santri pun segera berkerumun di gotha’an saya. Mereka sangat suka mendengar kyai Anom ‘berfatwa’; apalagi kalau sudah mulai melantur; pasti sampai kemana-mana, entah saling berhubungan atau tidak. Pokoknya, bicara dengan dia pasti seru dan mengasyikkan, meski seringnya kami tak paham benar dengan apa yang sebenarnya sedang dia bicarakan.

“Dunia sedang gila dan dikuasai orang-orang gila, jadi yang waras minggir saja” ancang-ancang kyai Anom untuk memulai ‘fatwa’nya.

“Kok malah minggir? Bukankah itu artinya membiarkan dunia semakin gila dan orang-orang gila semakin berkuasa?” tanya lik Cecep sambil menyorongkan gelas besar kopi ke hadapan kyai Anom.

“Bukankah yang sekarang sedang ramai beredar malah ungkapan: yang waras jangan ngalah?” sambung Lik Jum penasaran.

“Ya tergantung…” ujar kyai Anom sambil tertawa kecil dan mengedarkan pandangannya pada kami.

“Kok tergantung?” sergah lik Cecep. Kelihatannya lik Cecep agak masygul melihat kyai Anom malah cengengesan menanggapi pertanyaannya.

“Ya tergantung jarak, sudut dan cara pandangmu…” Kyai Anom tampak sengaja membiarkan kalimatnya menggantung, seperti memberi kami jeda waktu untuk mencerna sebelum dia masuk ke kalimat selanjutnya.

“Gampang saja kok. Ungkapan yang waras jangan ngalah itu kan mengandaikan bahwa yang dihadapi adalah yang tidak waras alias gila. Masak orang waras disuruh berkelahi dengan orang gila? Malah jadi sama gilanya tho…” jelas kyai Anom sambil menyeruput kopinya.

”Tidak waras belum tentu gila, bisa saja berarti sakit,” potong lik Jum.

”Apalagi! Orang sakit itu diobati, bukan diajak gelut..” jawab kyai Anom sekenanya.

“Yang waras justru harus ngalah…” lanjut kyai Anom dengan menekankan penyebutan kata ngalah sehingga terdengar menjadi ngAllah.

“Itu yang pertama. Yang kedua, kalau kamu menganggap dirimu sebagai faktor penting untuk mencegah dunia semakin gila, ya silakan kalau kamu tidak minggir, cuma…” Seperti biasa, jawaban-jawabannya yang hampir selalu hanya sampai koma, membuat manusia satu ini kadang terasa menyebalkan. Dengan cara ini, rasanya dia sengaja membuat kami jadi serombongan orang haus yang selalu menjulurkan lidah, sementara airnya malah dia bagikan setetes demi setetes.

“Lho, bukankah kita ini khalifah yang bertanggung-jawab terhadap kelangsungan dunia dan isinya?” protes kang Sam.

“Yang bilang siapa?” Jawaban kyai Anom ini membuat kami semua saling berpandangan. Rasanya kami semakin tak paham arah pembicaraannya.

“Perintah untuk kita sebagai pribadi-pribadi kan qu anfusakum wa ahlikum naara, selamatkan diri dan keluargamu dari api neraka…” Kyai Anom masih saja sangat irit memberi penjelasan atas pernyataannya sendiri.

“Terus bagaimana tentang kewajiban amar ma’ruf nahi munkar…?” sela Lik Jum.

“Bagaimana juga dengan hadits: Barang siapa melihat kemungkaran, maka hendaknya ia merubah dengan tangannya, jika tidak mampu, maka hendaknya merubah dengan lisannya, jika tidak mampu, maka dengan hatinya. Dan yang demikian itulah selemah-lemahnya iman?” sambung lik Cecep.

Bukannya menjawab, kyai Anom malah sudah mendengkur; meninggalkan kami dikepung pertanyaan-pertanyaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *