,

HIPER TAFSIR DAN MASYARAKAT LINGLUNG

Anis Sholeh Ba’asyin

Sumber: Satu Jam

Mungkin ini cerita lama yang sudah sering kita dengar, tapi ada baiknya kalau kita ulang untuk menyegarkan ingatan. Dulu, dan mestinya juga sekarang, banyak Kyai mengeluh saat didatangi para pemburu lotre yang mencari bocoran nomer yang bakal keluar. Tentu saja ini bikin jengkel, karena dengan seenaknya orang-orang ini mengidentikkan Kyai dengan peramal, atau -kalau sedikit lebih beruntung- sebagai pihak yang dianggap punya ‘keistimewaan’ karena bisa mengintip kejadian yang akan datang.

Tentu saja para Kyai sangat berhak untuk jengkel, karena setelah bertahun-tahun mereka belajar agama, ujung-ujungnya cuma diperlakukan sebagai pengintip masa depan, lebih celaka lagi pengintip masa depan khusus bab ‘nomer jadi’.

Tapi itu belum seberapa. Yang lebih bikin jengkel lagi, sebenarnya bukan persepsi mereka soal ke-kyai-an itu sendiri; tapi lebih pada cara mereka mengembangkan kerangka pemikiran yang sangat khas untuk ‘menjaring, menangkap dan kemudian membaca’ ke-kyai-an hanya dalam kaitan kepentingan mereka sendiri.

Orang-orang macam ini, karena kepentingan praktis, pragmatis dan jangka pendeknya, akan membaca apa saja yang dilihat atau dirasakan saat berinteraksi dengan Kyai, hanya dalam kerangka kepentingan utamanya untuk mendapatkan ‘bocoran nomer jadi’; tak lebih dan tak kurang dari itu. Seolah-olah Kyai itu sejenis ikan, yang mau tak mau, harus masuk dalam jaring pola pikir dan kepentingan mereka, untuk dikunyah sebagai santapan pemuas dahaga ‘ruhani’ mereka akan kepastian ‘nomer jadi’.

Apapun sikap, pemikiran atau pendapat Kyai, sebenarnya menjadi tidak terlalu penting. Pada dasarnya, para Kyai itu bahkan hanya diposisikan sebagai obyek, untuk sekedar pelengkap sekaligus pelayan permainan logika yang mereka kembangkan. Adanya faktor Kyai, tidak lain hanyalah agar kerangka pemikiran mereka bisa dioperasikan; paralel dengan kehadiran dukun, kertas ramalan dan lain sebagainya.

Jadi meskipun sang Kyai memberi nasehat halus untuk tidak bermain nomer, atau marah besar soal merebaknya perjudian, atau malah mengusir dan bahkan (mungkin karena sangat marahnya) melempar orang tersebut dengan sandal misalnya; itu semua menjadi tidak terlalu penting untuk ditangkap substansinya.

Para pemburu lotre memang tipe orang yang sangat fokus pada sasarannya (dan karena itu tepat disebut sebagai pemburu); sehingga akan membuang kenyataan apapun yang tidak menjadi bagian dari kebutuhannnya. Karena itu, tak mengherankan, apapun sikap dan tindakan para Kyai, hanya akan mereka reduksi dalam bentuk simbol, lantas -setelah dipretheli muatan nilainya- simbol ini akan diproyeksikan dalam kemungkinan-kemungkinan numerik yang akan mereka aplikasikan sebagai angka tebakan.

Akibatnya, apapun tindakan Kyai, secara ajaib tiba-tiba akan terbaca sebagai informasi ‘angka tebakan’ bagi mereka. Celakanya, ini juga berlaku bagi Kyai yang -misalnya karena tahu sejak awal- lantas memilih bersembunyi. Ketidak-hadiran semacam inipun tidak serta merta membuat dia terbebas dari jebakan matematika simbolik para pemburu lotre. Tindakan bersembunyipun tetap bisa diolah jadi angka-angka tebakan. Kesimpulannya: yang jadi serba salah dalam perspektif Kyai, sekaligus jadi serba benar dalam perspektif pemburu lotre.

Tentu saja ilmu tafsir versi para pemburu lotre ini, kecuali membikin jengkel, juga bisa membikin geli. Tapi saya yakin, kegelian ini akan berkurang begitu disadari betapa prinsip-prinsip dasar ‘ilmu tafsir’ macam inilah yang sebenarnya banyak berkembang di masyarakat. Justru jenis ‘masyarakat tafsir’ model inilah yang selalu menyesaki ruang publik.

Mereka terbiasa mengembangkan penafsiran-penafsiran atas suatu pertistiwa berdasar pada kepentingan-kepentingan sempit mereka sendiri. Tentu saja mereka didukung dengan suatu metode penafsiran tertentu, yang mereka anggap ‘baku’ dan ‘bisa dipertanggung-jawabkan’.

Masalahnya, penafsiran model begini cenderung memperkosa dan membajak obyek tafsirnya kedalam kerangka kepentingannya sendiri. Ia tidak memberi ruang bagi obyek tafsirnya untuk berbicara atas nama persepsi dan kepentingannya sendiri.

***

Untuk menyegarkan ingatan, kita misalnya bisa menengok ungkapan yang pernah dilontarkan Werner Heisenberg, bapak fisika kuantum, bahwa apa yang disebut sebagai konsepsi realitas obyektif pada dasarnya akan “menguap menjadi matematika, yang bukannya menggambarkan perilaku partikel-partikel dasar itu sendiri, tapi menggambarkan pengetahuan kita tentang perilaku ini”.

Apa yang disebut sebagai ‘pengetahuan kita’ inilah yang pada gilirannya kemudian dibakukan dan berulang kita pakai sebagai piranti untuk ‘memahami’ realitas. Dengan pembakuan, ‘pengetahuan kita’ disusun menjadi sistem kode yang makin lama makin rumit.

Tapi, harus diingat juga, proses pembakuan semacam ini selalu membawa bahayanya sendiri: menjadi konvensi, sehingga sistem kode yang berkembang semakin lama semakin tak mampu menggambarkan realitas, tapi justru potensial memanipulasinya.

Ambil contoh: ketika realitas pertumbuhan ekonomi dibakukan dalam indikator-indikator tertentu misalnya; sebagai kode, pada gilirannya indikator-indikator ini justru bisa dengan gampang dipakai untuk memanipulasi realitas obyektif pertumbuhan ekonomi yang terjadi.

Indikator Produk Nasional Bruto (PNB) misalnya. Kalau kita ikuti pengakuan John Perkins dalam Confessions of an Economic Hit Man yang dulu sempat menggegerkan, indikator ini dengan gampang dapat dipakai untuk menyesatkan persepsi orang tentang realitas pertumbuhan obyektif yang terjadi. Meski faktanya seluruh rakyat makin miskin, munculnya beberapa gelintir orang kaya raya sudah cukup untuk mendongkrak angka PNB.

Indikator penguatan mata uang dan IHSG pun setali tiga uang. Penguatan rupiah dan IHSG tidak serta merta menggambarkan pertumbuhan ekonomi riil, karena indikator-indikator ini tak kalah rentan untuk ‘dimainkan’ dibanding PNB.

Tentu gejala semacam tidak hanya mengemuka di dunia ekonomi atau fisika saja. Indikator sosial atau politik misalnya, pun bisa dengan canggih dimanfaatkan sebagai alat rekayasa manipulatif yang sama.

Akar segenap kekacauan ini sebenarnya berada jauh di bawah permukaan, di dalam asumsi-asumsi dasarnya. Pengetahuan yang semula berdiri sebagai sistem kode yang memerantarai kita dengan realitas, semakin lama semakin bergeser posisinya menjadi wakil otoriratif dari realitas. Dan, pada akhirnya, posisinya tak lagi sebagai tafsir atas realitas, tapi sebagai realitas itu sendiri.

Akibatnya, kita dikondisikan untuk mau dan bisa membaca realitas hanya lewat sistem kode ini saja. Dari sudut ini, jujur saja, disiplin pengetahuan yang kita kembangkan pada dasarnya tak jauh berbeda dengan disiplin para pemburu lotre di atas. Kita tak pernah ragu ‘memerkosa’ realitas, hanya agar bisa kita baca sesuai dengan sistem kode yang tersedia.

***

Nah, dalam dunia ‘ilmu’ yang penuh ‘kekacauan’ semacam ini; kita pasti selalu terangsang untuk bertanya: siapakah yang akan selalu muncul sebagai ‘pemerkosa agung’nya? ‘Pemerkosa agung’ yang selalu berhasil ‘menjinakkan’ realitas sesuai dengan sistem kode dan hiper tafsir yang dibangun untuk membela kepentingannya?

Kalau di Jawa, bisa diprediksi pemenangnya selalu ‘asu gede menang kerahe’; anjing besar menang gonggongannya. Tapi, bila yang bertarung adalah suara-suara yang imbang besarnya, yang bakal terjadi selalu adu gonggongan yang berkepanjangan.

Kalau sudah begini, giliran rakyat yang potensial untuk linglung. Mereka bukan cuma linglung mengikuti teater tafsir yang sedang dipertontonkan, tapi linglung karena sikap dan tindakan mereka pun sering jadi sasaran hiper tafsir para pemain di panggung. Seperti para Kiai di atas, kalau mereka melempar sandal untuk melampiaskan kejengkelan, justru hiper tafsir baru yang bakal mereka dapatkan!

Tapi, bukankah di zaman medsos ini antara penonton dan pemain di panggung sangat gampang bertukar tempat, dan yang namanya rakyat semakin terasa tidak jelas definisinya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…