,

JANGAN MENIPU CAHAYA!

Anis Sholeh Ba’asyin

Sumber: The Privacy Surgeon

Saya menarik nafas panjang. Berondongan penjelasan Mastur dan Masturi membuat saya kelabakan, tak bisa menolak tapi juga tak sepenuhnya bisa menyerap.

Saya seperti dipaksa memeriksa hidup saya sendiri yang carut-marut dan belepotan sampah. Kalau memakai tolok ukur Mastur dan Masturi, ujung-ujungnya pasti karena belum mampu sujud sebenar-benar sujud.

“Kenapa sujud saja kok rasanya begitu sulit?” tanya saya.

“Bukan sujudnya yang sulit…” jawab Mastur.

“Tapi manusialah yang membuatnya sulit…” sambung Masturi.

“Mereka membawa obornya kemana-mana…”

“Menyangka hanya obor itulah penuntunnya…”

“Padahal obor itu justru menjadi penghalang terbesar…”

“Untuk menyapa semesta secara langsung di bawah cahaya matahari…”

“Bayangkan, mereka bahkan membawa obor dalam sujudnya…”

“Sehingga tak menyadari bahwa mereka sedang menyelam di dalam samudra cahaya…”

Sekali lagi saya terbengong-bengong. Obor? Matahari? Samudra cahaya?

“Mbok jangan memakai simbol-simbol yang rumit tho, kepala saya tambah puyeng, tak mampu mencernanya…” Sergah saya setengah memprotes.

Mastur dan Masturi tersenyum.

“Kalau kita pakai simbolisme Al Qur’an, ada dzulumat, kegelapan; ada nuur, cahaya. Orang yang tertutup, menutup, kafir; berada dalam kegelapan. Orang yang tercerahkan, terbuka, mukmin; berada dalam cahaya…”

“Baik kegelapan maupun cahaya inipun berlapis-lapis hingga ke tak terhinggaan…”

“Diantara dua posisi ini, ada posisi ketiga: munafik. Orang yang selalu ragu, yang tidak punya sikap, yang dasarnya tertutup tapi selalu merasa terbuka…”

“Dalam al Baqarah ayat 17 dikatakan: perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan sinarnya, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat…”

“Atau dalam ayat 19: Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) guntur, sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang kafir.”

“Dan ayat 20: Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.”

“Shummun bukmun ‘umyun fahum laa yarji’uun..”

“Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali…”

“Mereka suka mengolok-olok orang beriman…”

“Menganggap hanya orang bodohlah yang beriman…”

“Selalu membuat kerusakan…”

“Tapi merasa sedang melakukan perbaikan…”

“Di hati mereka ada penyakit…”

“Dan Allah menambah penyakitnya…”

Saya menahan nafas. Rangkaian ayat ini seperti menelanjangi diri saya.

“Ada dua perumpaan penting di rangkaian ayat tersebut, obor (menyalakan api) dan sambaran kilat…”

“Obor yang menerangi sekeliling, dihilangkan sinarnya…”

“Dan kilat yang menyambar. Setiap kilat itu menyinari mereka, baru mereka berjalan. Ketika sambaran kilat itu hilang, mereka berhenti…”

Saya mengangguk-angguk, meski hati saya rasanya oleng karena merasa ditelanjangi.

“Dalam rangkaian pembuka surat Al Baqarah tersebut, ada tiga belas ayat yang menggambarkan ciri kaum munafik, sementara hanya empat ayat untuk ciri mereka yang bertaqwa dan hanya dua ayat untuk yang kafir..”

“Itu menunjukkan bahwa yang paling banyak dialami manusia pada dasarnya adalah kemunafikan, dalam beragam tingkat dan wujud…”

“Banyak dari kita yang cukup tahu agama misalnya, tapi gairah dan keyakinan menjalankannya sangat lemah…”

“Baru pada saat-saat tertentu, dalam kondisi-kondisi tertentu, tiba-tiba sesuatu menjentik kesadaran dan membuat kita melihat kebenaran dengan sangat jelas, sehingga kembali bergairah dan yakin menjalankannya…”

“Tapi begitu kesadaran itu meredup, gairah dan keyakinan kitapun ikut meredup”

“Mungkin hal tersebut bisa dianggap sebagai tingkat ‘kemunafikan’ paling ringan; karena, walau sedikit, orang masih memiliki iman…”

“Meski lemah ghairah dan keyakinan, kita masih tetap menjalankannya…”

“Gejala tersebut adalah salah satu contoh kecil dan paling gampang dari perumpaan ‘kilat yang menyambar’. Imannya mandek begitu kilatan cahayanya hilang…”

“Dalam skala yang lebih besar, kondisi tersebut tercipta karena: langit kesadaran mereka tertutup berlapis-lapis mendung, berlapis-lapis penutup yang mereka cipta sendiri. Lapis-lapis mendung yang begitu gelap, yang bertambah gelap oleh kelebatan hujan, dan menjadi menakutkan karena suara guntur…”

“Mendung dalam kaitan ini bisa kita umpamakan sebagai tumpukan prasangka yang dibakukan dan dilembagakan sebagai apa yang disangka sebagai ‘pengetahuan’. Hujan dalam kaitan ini adalah penerapannya dalam banyak hal yang disangka sebagai ‘kebaikan’. Dan guntur adalah peristiwa ketika awan ‘pengetahuan’ tersebut pada titik tertentu mendekati atmofir ‘kenyataan’…”

“Guntur ini pada dasarnya menakutkan, karena serasa mengancam ‘mendung’ yang dibangun manusia; karena itu orang menolaknya, dengan menutup telinga…”

“Padahal, lewat guntur tersebut, secara bersamaan dihasilkan ‘kilat yang menyambar’, yang baru terlihat beberapa saat setelah guntur terdengar…”

“Hal tersebut sekaligus menunjukkan bahwa: walau sekilas, Allah masih tetap memberi petunjukNya, meski lewat pengetahuan yang pada dasarnya  disusun berlandas ‘kegelapan’. Dan yang sekilas tersebut pada dasarnya adalah juga peringatan: bukan ‘mendung’ pengetahuan yang memberi pentunjuk, tapi Dia sendirilah yang memberi…”

“Inilah yang banyak terjadi dalam sejarah manusia dan peradabannya…”

“Perumpaan lain untuk pengetahuan seperti yang kita sebut tadi adalah obor. Yang kita sebut ‘pengetahuan’ adalah sistem dan lembaga yang landasannya prasangka, asumsi, dzon; yang pada dasarnya hanya berlaku bila Allah mengamini apa yang kita persangkakan. Bila tidak, maka tak ada gunanya..”

“Karena itu, kata Al Qur’an: obor adalah alat untuk menerangi sekeliling, yang sewaktu-waktu bisa Allah hilangkan sinarnya”

Saya benar-benar tergigil. Tulang-tulang saya serasa dilolosi. Saya merasa selama ini salah menyikapi apa yang saya anggap ‘pengetahuan’; bukan cuma salah menyikapi, tapi malah mengagung-agungkannya.

“Kembali ke soal sujud tadi, akankah kita membawa-bawa ‘mendung berlapis-lapis’ ke dalam sujud kita?”

“Pantaskah kita membawa obor dalam sujud?”

“Dalam sujud semua obor harus dibuang jauh-jauh…”

“Karena kita sedang tenggelam dalam samudra cahaya…”

“Dalam sujud kita dicelup dengan celupan Allah..”

“Celupan siapakah yang lebih baik dari celupan Allah?”

“Celupan yang akan mencahayai ‘pengetahuan sejati’ kita…”

“Yang akan membongkar semua obor dan mendung yang selama ini menggayuti budaya dan peradaban kita…”

“Seorang alim bahkan sampai mengatakan: jangan angkat tanganmu saat mengangkat tubuh dari sujud, tapi seretlah dari tanah ke tubuhmu…”

Dengan sembunyi-sembunyi saya mencoba menghapus tetesan air mata yang dari tadi tak bisa saya bendung.

(Bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…