in

LEBARAN PARA URBAN

Anis Sholeh Ba’asyin

Kalau dalam momentum lebaran, anda sempat masuk ke desa-desa, maka dengan cepat akan anda temukan banyak pemandangan unik.

Mulai dari motor dan mobil baru, model pakaian yang unik, potongan rambut yang tak biasa sampai dengan gaya dan topik pembicaraan yang sangat ‘kota’, tiba-tiba muncul sebagai noktah yang hampir memenuhi pemandangan desa. Alhasil, kita serasa sedang menonton potongan kecil gaya hidup kota yang tiba-tiba muncul dan menempel di desa.

Tentu saja ini bukan gejala dadakan, karena kebiasaan mudik juga bukan gejala yang baru. Hanya saja, akhir-akhir ini jumlah mereka cenderung membengkak dan didominasi oleh kalangan muda yang rata-rata di bawah 35 tahun.

Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Kenapa anak-anak muda sekarang lebih tertarik untuk menjadi urban ke kota-kota? Apakah ini sekedar masalah ledakan jumlah penduduk?

Tentu tak mudah untuk menjawabnya. Tapi yang jelas langsung tampak dari semua ini adalah satu hal utama: kita tak pernah punya strategi kebudayaan yang jelas, tak pernah punya cetak biru bagi Indonesia masa depan. Mulai dari 25, 50 sampai 100 tahun ke depan.

Strategi kebudayaan yang dengan jelas memetakan masalah kebudayaan secara menyeluruh, kemudian mengidentifikasi batas antara wilayah konservasi dan progesi. Wilayah konservasi akan membantu kita merevitalisasi nilai-nilai yang relevan untuk terus dikembangkan. Sementara wilayah progesi akan membantu kita menjelajah ruang-ruang kemungkinan kreatif yang selama ini mungkin tak terpikirkan.

Tak adanya strategi kebudayaan langsung terasa pada dunia pendidikan dan model pembangunan yang kita pilih. Dunia pendidikan harus kita tengok pertama kali, karena lewat lembaga inilah seharusnya kita menyiapkan generasi untuk Indonesia masa depan. Artinya lembaga ini sudah seharusnya sejak awal dirancang untuk menyiapkan sumber daya manusia bagi Indonesia masa depan, Indonesia yang diproyeksikan.

Apalagi saat ini kita sedang diambang perubahan global. Keseharian kita diam-diam dicengkeram dan diatur menurut pola yang dikendalikan oleh kepentingan mega-korporasi yang beroperasi lewat ‘tangan-tangan’ gaib yang berseliweran disekitar kita. Tanpa cetak biru dan strategi kebudayaan yang jelas, mudah diperkirakan bahwa dunia pendidikan dan pembangunan kita pun akan dirasuki ‘tangan-tangan’ gaib macam ini, sehingga penuh improvisasi dan tambal sulam saja.

Sekarang mari kita tengok kembali gejala urbanisasi yang cenderung meningkat akhir-akhir ini, bahkan sebenarnya bukan hanya urbanisasi tapi juga banyaknya tenaga kerja yang pergi ke luar negeri.

Rata-rata mereka adalah lulusan SD sampai SMA. Mereka dikenalkan pada banyak hal, meski sering bukan merupakan kebutuhan mereka, tapi tak dilatih untuk memiliki kecakapan hidup. Atau kalau dilatih dengan kecakapan-kecakapan tertentu, lapangan kerja yang adapun tak cukup menampung mereka.

Kalau mereka berasal dari daerah yang miskin sumber daya alamnya, tentu saja kita mafhum bila mereka memilih urban. Tapi faktanya: sebagian terbesar wilayah kita adalah daerah yang tidak miskin sumber daya.

Dari sisi ini, mestinya kita melihat masalah urbanisasi ini dari perspektif kegagalan model pembangunan kita. Dan itu artinya adalah kegagalan kita merumuskan strategi kebudayaan untuk bangsa ini.

Tanpa kemauan bersama untuk merumuskan strategi kebudayaan yang tepat bagi Indonesia 25 sampai 100 tahun ke depan, sungguh tak terbayang bagaimana wajah Indonesia kelak. Itupun kalau masih ada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *