in

LUPA

Anis Sholeh Ba’asyin

Sungguh pahit untuk mengenang, betapa ‘lupa’ secara sadar telah diintegrasikan sebagai bagian penting kesadaran modern. Bahkan, sampai batas tertentu, ‘lupa’ tampaknya begitu diandalkan untuk menjaga kelangsungan peradaban ini.

Kecepatan perubahan tema dan topik informasi, tampaknya sangat membantu kita untuk cekatan memelihara ‘lupa’. Jelas, orang tak mungkin mengakses semua informasi di balik satu peristiwa. Alih-alih peristiwa yang jauh dari jangkauan, bahkan peristiwa yang dekat dengannya pun, belum tentu orang bisa mengaksesnya secara penuh.

Bahkan nyaris bisa dikatakan bahwa tak seorangpun di dunia ini yang bisa secara persis dan presisi mengetahui seluruh sisi dari satu peristiwa, bahkan yang paling sederhana sekalipun. Masalah jarak, sudut dan cara pandang menyebabkan suatu fakta akan melahirkan beragam rekonstruksi sekaligus versi pembacaan. Inilah kelemahan bawaan manusia, yang rawan dimanfaatkan oleh kekuatan mana pun.

Selama ini, orang hanya mengandalkan versi-versi yang disediakan media massa (baik mainstream maupun media sosial). Versi-versi yang disana-sini potensial mengalami distorsi, editing dan sejak awal tak pernah bebas dari unsur tafsir. Tafsir yang bisa muncul dari mana saja, termasuk dari narasumbernya.

Akibatnya, memori kita pada akhirnya cuma akan menyimpan gambar-gambar kabur dengan paket-paket penafsiran yang secara instan sudah disiapkan untuknya.

Berjalannya waktu sekaligus potensial mengubur pertanyaan-pertanyaan kritis yang mungkin sempat melintas. Sehingga akhirnya -mau tak mau- kita terpaksa harus puas dengan sekedar merasa tahu sesuatu yang pada dasarnya kita tidak pernah benar-benar tahu.

Dan, seperti tumpukan peristiwa lainnya, kebenaran faktual tiap peristiwa pada akhirnya kita biarkan hidup di kerajaan lupa.

Di sisi lain, kita pun terlanjur tersugesti untuk selalu membayangkan, bahwa pilihannya cuma ‘lupa’ atau membuka kotak pandora. Padahal, yang terakhir -yang mengandaikan terurainya fakta-fakta dan terungkapnya motif-motif- dianggap potensial meneror konstruksi kesadaran kita. Sesuatu yang tak siap kita tanggung sakitnya, karena dengan telanjang membongkar ketololan-ketololan yang selama ini kita rawat.

Tak heran, bila akhirnya banyak pengetahuan yang konstruksinya kita susun dari lupa ke lupa. Pengetahuan menjadi muara kerajaan lupa kita. Kerajaan yang begitu berkuasa mengarahkan ke mana mata harus memandang dan kaki harus melangkah.

Lupa memang membuat kita potensial -lebih dari keledai- berulang-ulang terperosok di lubang yang sama; dan justru karena itu -langsung tak tak langsung- ia diintegrasikan dalam konstruksi kesadaran peradaban ini.

Lupa selalu dengan mudah menilep fakta dan peristiwa -meski dengan milyaran luka yang masih menganga dan coreng moreng gambar penanganannya- dan membuatnya ketlingsut dalam kesadaran kita, yang terlanjur di-setting hanya untuk terpana oleh aktualitas dan sensasi sesaat saja.

Masalahnya, bisakah lupa mengubur kenangan orang yang secara langsung telah dan akan selalu bermuka-muka dengan kesemrawutan birokrasi, ketidak-adilan hukum, kekerasan aparat, ketidak-ramahan kebijakan atau dengan segala macam kebusukan yang selama ini kita biarkan tersembunyi rapat-rapat di bawah permukaan? Bisakah lupa menghapus ini semua, lebih-lebih bagi mereka yang merasa telah menjadi korbannya?

Bisakah lupa menghilangkan derita korban penggusuran, cuma karena sebab utamanya selalu dicoba sembunyikan? Bisakah lupa mencoret luka mereka yang terus termiskinkan, cuma karena versi-versi sejarahnya dikaburkan? Bisakah lupa menghapus sakit rakyat yang terus merasa terpinggirkan oleh wacana perebutan kuasa di segenap lini dan level?

Lupa menjadi begitu berkuasa karena kita memang telah mengagamakannya. Para pemimpin, birokrat dan sebagian kelas menengah mengagamakannya karena bisa menangguk untung dari sana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *