in

MUDIK, MALIN KUNDANG DAN JATI DIRI

Anis Sholeh Ba’asyin

Agak sulit dilacak, sejak kapan sebenarnya kata mudik dipakai untuk menyebut prosesi tahunan pulang ke kampung halaman secara massal. Mudik adalah kosa kata orang Betawi, yang berarti ke udik.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata udik punya tiga arti. Pertama:  sungai yang sebelah atas (arah dekat sumber), (daerah) di hulu sungai. Kedua: desa, dusun, kampung (lawan kota). Dan ketiga: kurang tahu sopan santun, canggung (kaku) tingkah lakunya, bodoh.

Bisa diyakini bahwa secara denotatif kata udik sebenarnya menunjuk lokasi: daerah di atas, di hulu dekat sumber sebuah sungai. Sementara arti kedua hanya sekedar gebyah uyah, generalisasi dari arti yang pertama pada lokasi-lokasi lain yang karakteristiknya dianggap hampir sama.

Sedang pengertian ketiga tampaknya merupakan penyifatan yang secara konotatif ditempelkan orang kota atau kelompok yang merasa lebih tinggi ‘peradaban’nya terhadap budaya udik atau desa.

Yang Tinggi, Yang Rendah

Makna konotatif perendahan yang dihubungkan dengan lokasi macam ini memang jamak terjadi, karena dalam bangunan peradaban, pemilahan ruang hampir selalu secara simultan beriringan dengan penciptaan nilai. Ketika ruang bermutasi menjadi kota-desa, kota besar-kota kecil, pusat-daerah, secara sekaligus ia juga dimuati nilai tinggi-rendah, bermutu-tak bermutu, kiblat-pinggiran dan seterusnya.

Orang-orang yang tinggal di wilayah kota atau daerah yang dianggap lebih maju (yang nota bene fasilitas-akses-pertumbuhannya lebih besar-lengkap-cepat) secara stereotipe akan mudah terpancing untuk menganggap mereka yang tinggal di desa atau daerah yang dianggap tertinggal (yang nota bene fasilitas-akses-pertumbuhannya lebih kecil-terbatas-lambat) sebagai orang-orang yang secara kultural lebih rendah posisinya.

Meski demikian, kalau mau jujur sebenarnya muatan konotatif perendahan dalam kata udik memang terasa agak janggal dan kontradiktif. Karena, berbeda dengan istilah ‘ndeso’ (yang dihubungkan dengan lokasi desa) dalam kosa kata Jawa atau kampungan (yang dihubungkan dengan lokasi kampung); makna denotatif kata udik secara diametris justru berlawanan dengan muatan konotatif yang belakangan ditempelkan.

Alasannya sederhana, di dalam kata udik sebenarnya terkandung paling tidak dua makna mulia: pertama, tempat yang lebih tinggi. Kedua, sumber mata air, yang selalu berkonotasi kejernihan. Dengan ukuran apapun, orang pasti mengatakan bahwa yang tinggi pasti lebih baik dari yang rendah dan yang jernih pasti lebih berharga dari yang keruh.

Simbolisme Mudik

Kalau makna denotatif udik kita pakai, maka secara simbolik prosesi mudik seharusnya bisa kita baca sebagai prosesi naik ke ketinggian untuk menemukan sumber air yang masih murni dan jernih.

Makna simbolik ini akan dapat kita pahami dengan baik apabila kita menggunakan aliran sungai sebagai perumpamaan untuk membaca arah transmisi kebudayaan. Dengan perumpamaan ini, udik justru harus diposisikan sebagai simbol ketinggian, hulu, kemurnian dan kejernihan asal usul budaya; sementara kota justru sebaliknya, menjadi simbol hilir, muara, dimana macam-macam sampah telah menciptakan kekeruhan budaya.

Lewat sudut pandang ini, sengaja atau tidak, prosesi mudik justru seperti sedang meruntuhkan muatan konotatif perendahan yang selama ini dikandung pengertian udik. Udik tak lagi dipandang sebagai potret kebodohan dan ketertinggalan; tapi sebagai hulu dan sumber dimana kemurnian, kejernihan dan ketinggian budaya bisa ditemukan. Sebaliknya, kota juga tak lagi dipandang secara monolitik sebagai simbol superioritas, karena ia justru sekaligus bisa menjadi simbol hilir dimana kekeruhan budaya terbentuk.

Menolak Menjadi Batu

Sadar atau tidak, dengan mudik orang seakan sedang mendemonstrasikan bahwa diri mereka bukan Malin Kundang yang malu mengakui udik sebagai ibu kandung kulturalnya.

Bayangkan saja, bagaimana -tanpa tersekati oleh rasa malu atau rendah diri lagi- orang beramai-ramai memproklamirkan dirinya sebagai orang udik, dan berbondong-bondong meninggalkan kota untuk menziarahi asal-asulnya: udik.

Ini bukan saja dilakukan oleh kelas rakyat jelata, yang harus mudik bersepeda motor atau berdesakan dalam angkutan umum, tapi juga oleh kelas menengah dan atas yang mudik dengan mobil-mobil pribadi atau pesawat terbang.

Bagi banyak orang, hidup di tengah kekeruhan budaya kota, tampaknya telah membuat mereka merasa menjadi seperti Malin Kundang. Kekeruhan budaya yang di satu sisi melunturkan nilai dan lembaga-lembaga lama tanpa alternatif pengganti yang sepadan, sedang di sisi lain semakin mendorong ketidak-jelasan jati diri dan identitas; telah membuat kehidupan kota terasa menyesakkan, tak memberi kebahagian dan ketenangan bagi mereka.

Ini semua membuat mereka merasa telah menjadi ‘orang lain’, menjadi ‘orang asing’ yang kadang bukan saja berbeda tapi bahkan bertentangan dengan apa yang mereka anggap sebagai ‘jati diri’ mereka. Sesuatu yang mereka rasakan potensial membuat mereka benar-benar terkutuk.

Karena, kalau kita pakai bahasa hikayat Malin Kundang, ancamannya memang sangat mengerikan: kalau kau tolak ibu kandungmu, sangkan paran kebudayaan dan peradabanmu, maka kau akan terkutuk menjadi batu.

Tentu saja mereka tak mau menjadi batu yang dingin dan terasing, karena tak lagi mampu berdialog dengan masa lampau, sementara masa depan masih sekedar impian yang kabur. Mereka juga takut menjadi batu yang tak mampu lagi menghargai apalagi menyerap kearifan yang ditebarkan ibu kandung sendiri, sehingga membuat hidup kalang kabut tak punya pijakan.

Dari sisi ini, tampaknya mudik bisa menjadi resep pengaman bagi kaum urban di tengah guncangan perubahan budaya yang menciptakan masa transisi yang tak jelas kapan ujungnya. Dengan mudik orang mampu menyegarkan kembali ingatannya akan kearifan-kearifan tradisional yang dulu membesarkannya. Dengan demikian orang bisa menemukan semacam oase untuk sejenak bercermin, merenung dan membebaskan diri dari kekeruhan budaya yang selama ini dihadapi dalam keseharian hidup di kota.

Apalagi mereka yang mudik hampir selalu mengajak serta anak-cucunya, sehingga secara tidak langsung seperti sedang mengajari generasi penerus untuk menyerap kearifan yang sama, sekaligus menghindarkan mereka dari kutukan mengerikan: menjadi batu.

Artinya, dengan satu dan lain cara, bolehlah dikatakan bahwa pada dasarnya mudik bisa menjadi sarana transmisi budaya yang efektif, sehingga orang selalu bisa menemukan kembali jati diri kulturalnya.

Yang Universal, Yang Partikular

Entah sengaja atau tidak, tapi yang jelas muatan simbolik mudik secara kebetulan bisa dilihat sebagai salah satu bentuk aplikasi lebih lanjut dari muatan puasa Ramadlan.

Apabila mudik adalah simbol perjalanan naik ke arah kejernihan untuk menemukan kembali jati diri kultural; maka puasa adalah juga perjalanan naik untuk menemukan jati diri kemanusiaan seseorang.

Prosesi mudik yang dilakukan orang di akhir puasa, bisa menjadi simbol yang baik bagaimana penemuan kebenaran universal yang mutlak (jati diri kemanusiaan) lewat puasa, ditindak lanjuti dengan mengaplikasikannya dalam wadah ruang waktu partikular yang relatif (jati diri kultural) lewat mudik.

Dari sudut pandang ini, kita bisa memetik pelajaran bahwa Kebenaran dengan K besar yang selalu bersifat universal dan mutlak, baru mencapai kesempurnaannya ketika ia diaplikasikan dalam ruang waktu partikular yang relatif menjadi kebenaran dengan k kecil. Keduanya saling melengkapi, sehingga tercipta lingkaran siklis yang sempurna. Begitu juga seharusnya dengan keIslaman (universalitas-mutlak) dan keIndonesiaan (partikularitas-relatif).

Mengutip Rumi: “dia yang mampu berjalan di langit, tak akan kesulitan melangkah di bumi.” Langit adalah simbol universalitas-mutlak, sementara bumi adalah simbol partikularitas-relatif. Karena, kalau kita kutip al Qur’an: kecuali diberi kitab (universalitas-mutlak) kita juga diberi hikmah (kemampuan mengaplikasikannya dalam ruang waktu partikular-relatif).

Dari sisi pandang ini, seharusnya mudik memang lebih dari sekedar sebagai dampak urbanisasi. Karena di dalamnya kita bisa memetik pelajaran tentang bagaimana selama ini keIslaman berkawin-mawin secara harmonis dengan keIndonesiaan.

Begitulah semestinya wajah keIslaman dan keIndonesiaan dioperasionalkan; bukan dengan dipisah atau bahkan dipertentangkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *