in

NEGERI PALING KAYA

Anis Sholeh Ba’asyin

Sungguh, seharusnya kita patut bersyukur karena hidup di salah satu negeri paling kaya di dunia. Kita kaya sumber daya alam; begitu kaya sehingga kita jadi tak enak pada negeri-negeri lain yang tak seberuntung kita. Karena itu, untuk menjaga ‘etika’ pergaulan, sebagai tuan rumah yang baik, kita merasa wajib mempersilahkan para ‘tamu’ untuk lebih dulu menyantap kekayaan alam kita. Kita bersyukur karena mampu menempatkan diri sendiri di giliran terakhir. Kebahagiaan sejati adalah saat kita bisa mengenyangkan orang lain.

Kecuali itu, kita juga harus bersyukur karena telah diberi kekayaan hati yang begitu berlimpah, sehingga selalu merasa tak tega tiap melihat orang lain luntang-lantung tak punya kerja. Sungguh, bisa bermalam-malam kita menangis bila mengingat derita mereka. Untuk itu, kita sangat berlapang hati, melupakan ego diri sendiri yang kesulitan cari kerja, dan suka rela mengundang mereka untuk bekerja di sini.

Kita juga diberi kaya milyarder. Negeri kita mencatat pertumbuhan milyarder paling pesat di dunia. Ini hampir-hampir menandakan bahwa rakyat kita sudah gemuk dan bahagia semua, jauh meninggalkan garis kemiskinan di belakang.

Kita juga kaya koruptor, begitu kayanya sehingga banyak koruptor kakap kita biarkan bebas berkeliaran di dalam atau di luar negeri. Masalahnya, kita terlanjur memiliki stok koruptor yang melimpah, sehingga raibnya daftar seratus atau dua ratus koruptor tak akan membuat perbedaan yang signifikan.

Kita juga diberi kekayaan warisan budaya, begitu kayanya sehingga kita tak pernah ragu membiarkan peninggalan-peninggalan dari masa silam diangkut sebagai cindera mata ke negeri orang, toh cadangannya masih sangat berlimpah.

Jangan lupa, kita juga kaya bencana, begitu kayanya sehingga kita agak malas mengurusnya. Bahkan tak terlalu salah untuk mulai mempertimbangkan masuknya ‘wisata bencana’ sebagai salah satu program Kementerian Pariwisata. Bukankah selama ini lokasi bencana terbukti selalu berhasil menjadi magnit yang menarik minat wisatawan, baik asing maupun domestik?

Meski demikian, semua kekayaan ini tampaknya belum juga memuaskan kita; karena semuanya masih terlalu beraroma ‘material’, beraroma ‘duniawi’. Masih ada lubang yang tertinggal, sehingga belum membuat kita merasa sempurna menjadi salah satu negeri terkaya di dunia.

Dari pengamatan selintas, banyak pihak lantas menyimpulkan bahwa lubang itu bermuara dari ketakseimbangan capaian, antara yang ‘material’ dengan yang ‘spiritual’; antara yang ‘duniawi’ dengan yang ‘ukhrawi’. Tak mengherankan bila beberapa waktu terakhir ini banyak orang lantas mencoba mengakselarasikan capaian ‘spiritual’ dan ‘ukhrawi’ negeri ini, agar sejajar dengan capaian ‘material’ dan ‘duniawi’ yang sudah lebih dahulu melenting ke puncak.

Hasilnya? Alhamdulillah, sekarang kita sudah bisa berbangga, karena kekayaan capaian ‘spiritual’ kita sudah mulai bisa mengimbangi kekayaan ‘material’. Kita sudah punya nabi-nabi baru. Kita juga sudah pernah langsung didatangi malaikat, bukan sembarang malaikat, tapi malaikat Jibril. Bahkan, lebih hebat lagi, ternyata Tuhan sendiri malah sudah pernah berkenan meng’kost’kan kerajaannya di negeri kita.

Tentu saja ini perkembangan yang menggembirakan. Apalagi kalau diingat, sebelumnya orang cuma berani mengaku-aku sebagai wali atau minimal sebagai penjelmaan wali dari masa lampau. Ini modus lama yang sebelumnya terbukti efektif merekrut pengikut.

Yang sekarang masih kita tunggu adalah perkembangan lanjutnya. Kalau stadium awal adalah kewalian, kemudian disusul kenabian, kemalaikatan; maka yang harap-harap cemas sekarang kita tunggu adalah hadirnya Tuhan itu sendiri.

Bayangkan, betapa makin sempurnanya kekayaan negeri kita bila ada dua atau tiga orang mengaku sebagai tuhan. Sudah pasti, kita akan punya keasyikan baru: menyaksikan gaduhnya tarik-menarik klaim antar sesama tuhan. Apalagi bila mereka kemudian sama-sama merasa paling berhak memimpin, atau setidaknya menentukan pemimpin, wah akan lebih dahsyat lagi kegaduhannya.

Dan, sudah pasti juga, ini akan melengkapi kesyukuran kita karena diberi hiburan tambahan setelah anugerah tontonan tarik-menarik klaim politik, yang kelucuannya tidak pernah beranjak dari itu ke itu saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *