in

PERADABAN QABIL

Anis Sholeh Ba’asyin

Kekerasan selalu membuat kita termangu. Setelah sedemikian panjang sejarah dilalui, setelah sedemikian banyak mutiara kebijakan digali; sepertinya manusia tak pernah bisa melepaskan diri dari daya tarik naluri ‘primitif’nya: berbahasa dengan idiom kekerasan untuk mencapai tujuan.

Bayangkan, hampir tiap hari kita semua dipaksa menyaksikan reportoar komedi gelap kemanusiaan. Reportoar yang mempertontonkan dengan telanjang wajah peradaban kita: wajah ketidak-berdayaan kemanusiaan, wajah keteraniayaan akal sehat, wajah ketertindasan nurani.

Hampir tak ada episode sejarah yang lewat tanpa kekerasan; baik skala kecil maupun besar. Mulai dari skala desa, sampai skala negara. Mulai dari yang dijubahi tujuan sakral sampai yang semata-mata profan. Dari yang mengatas namakan Tuhan sampai yang didorong syahwat.

Lebih gila lagi, kekerasan sering muncul begitu saja tanpa butuh sebab-sebab yang kuat atau pertimbangan yang rumit. Kekerasan tiba-tiba menjadi saluran paling populer untuk sekedar mengomunikasikan kesumpekan pikiran, tekanan hidup yang tak tertanggungkan atau kebuntuan menemukan jalan keluar. Hanya karena percikan kejadian sepele saja, dengan mudah kita bisa melihat baku hantam di demonstrasikan di jalanan atau warga satu desa menyerbu tetangga desanya.

Tak mengherankan bila sejak awal, penciptaan manusia diiringi ‘protes’ malaikat: kenapa Tuhan menciptakan mahluk yang gemar mengalirkan darah sesamanya?

***

Kekerasan merupakan bahasa paling purba yang dikenal manusia. Sangat bisa jadi, ia merupakan unsur bawaan mahluk ‘pra Adam’ yang ada dalam diri manusia (‘protes’ malaikat tentu bukan karena ia bisa melihat masa depan, tapi karena sebelumnya ia sudah melihat mahluk ‘semacam’ Adam yang sering saling bunuh diantara sesamanya).

Tentu ini agak aneh, karena mahluk ‘pra Adam’ yang sangat mungkin mirip Adam ini, nalurinya agak berbeda dengan mahluk lain. Perbedaan ini setidaknya karena mahluk lain sangat jarang saling bunuh dengan sejenisnya, sebaliknya mahluk ‘pra Adam’ tampak terbiasa melakukannya dengan intensitas yang tinggi.

Celakanya, ketika menjadi ‘Adam’, naluri untuk meniadakan sesama ini tidak dieliminasi tapi justru dimanifestasikan dengan beragam bentuk. Mulai dari yang paling telanjang -tidak membutuhkan alasan apapun untuk melakukannya- sampai yang terjubahi dengan berbagai label pembenaran. Label-label yang -bila tidak dibaca secara hati-hati- bisa sangat menyesatkan.

Dan sejarah kekerasan bahkan sudah dimulai dari generasi pertama anak Adam. Berkembangnya konsep ‘hak milik’ telah memotivasi muncul kembalinya naluri ini ke permukaan. Konsep ini pertama kali dihubungkan dengan perempuan. Konon Adam alaihi salam sudah menjodohkan secara silang putra-putrinya yang kebetulan seluruhnya dilahirkan kembar. Habil mendapat kembaran Qabil, dan sebaliknya.

Qabil, yang melihat kembarannya lebih menarik dari kembaran Habil, mulai mengembangkan logikanya sendiri untuk menentang logika pengaturan jodoh yang diputuskan ayahnya. Menurutnya, setiap pihak lebih berhak atas pasangan kembarnya dibanding yang lain. Logika ini memang sengaja dibangun untuk memperjuangkan kepentingannya sendiri, dalam hal ini adalah untuk memiliki sesuatu yang menurut ukurannya lebih menarik untuk dimiliki.

Kalau boleh berandai-andai, nalar semacam ini tentu tidak akan dikembangkan oleh Qabil bila saja ia melihat -menurut ukuran subyektifnya sendiri- kembaran Habil lebih menarik dari kembarannya. Artinya, landasan untuk pola berpikir semacam ini memang sejak semula sangat tidak stabil, karena dibangun di atas subyektivitas kepentingan.

Model berpikir semacam inilah, yang menurut kacamata masa kini, sering dikategorikan sebagai akal instrumentalis atau akal fragmentaris, dimana landasannya dibentuk dan didikte oleh kepentingan.

Atau, kalau kita pakai terminologi Islam, ini adalah kondisi jahil. Jahil bukanlah bodoh dalam pengertian tidak berpengetahuan, tapi karena pengetahuannya dibangun secara instrumentalis atau fragmentaris. Kecuali itu, jahil juga dicirikan dengan ketidak-mampuan mengendalikan diri, sehingga ia gampang meledak menjadi tindakan memaksakan kebenaran pendapatnya sendiri.

Inilah yang mendorong Qabil membunuh Habil, darah anak Adam pertama yang dikucurkan ke muka bumi. Darah yang dikucurkan oleh subyektivitas kepentingan, oleh instrumentalis dan fragmentalisnya akal, oleh kejahilan dalam melihat perspektif kenyataan yang lebih universal.

Darah yang sejak itu seperti tak berhenti mengucur; membuat tanah lelah menampungnya dan udara sumpek oleh teriakan-teriakan perang yang ditimbulkannya. Anehnya, landasan dasarnya tak pernah jauh beranjak dari landasan yang mendorong Qabil membunuh Habil. Cuma pembahasaannya saja yang berbeda.

***

Kalau boleh mengambil pelajaran, kita bisa menganggap bahwa peristiwa Habil dan Qabil bermula dari munculnya standar subyektif tertentu dalam interaksi sosial. Dalam kasus Habil dan Qabil, standar itu adalah kecantikan perempuan. Meski banyak ‘perempuan’, memiliki ‘perempuan’ yang lebih cantik menurut standar yang secara inter-subyektif sudah diterima bersama, tentu akan menempatkan ‘seorang lelaki’ merasa lebih unggul dan lebih berkuasa dibanding lainnya.

Tentu, tidak semua ‘lelaki’ mendapatkan ‘perempuan’ yang paling cantik atau setidaknya sekedar cantik. Dari standarisasi kecantikan inilah kemudian terbentuk ketidak-seimbangan realitas sosial; dimana mereka yang memiliki ‘perempuan’ cantik akan cenderung diposisikan lebih tinggi dari lainnya.

Tanpa bermaksud untuk masuk ke perdebatan gender, secara simbolis ‘perempuan’ disini bisa kita asosiasikan dengan sumber-sumber daya alam misalnya. Sementara ‘perempuan’ cantik adalah simbol sumber daya alam yang paling dianggap utama. Tentu saja, standar keutamaan itu sendiri tak berbeda dari standar kecantikan, yang pasti sama tidak stabilnya karena dibentuk oleh setting sosio-historis yang selalu berubah.

Ketidak-seimbangan hubungan sosial ini berakar dari perbedaan tingkat penguasaan atas sumber-sumber daya alam utama yang dianggap sebagai sumber kekuatan dalam masyarakat. Besarnya akses penguasaan sumber daya alam, akan segera memposisikan satu pihak sebagai lebih berkuasa terhadap pihak lain yang aksesnya lebih kecil. Realitas ketidak-seimbangan hubungan sosial inilah, yang pada tahap tertentu berubah jadi pola hubungan yang bersifat kekuasaan.

Mungkin seperti inilah konstruksi pikiran yang melahirkan tindak kekerasan Qabil pada Habil. Ia membayangkan sedang memburu kekuasaan ketika membunuh Habil. Dan kekuasaan itu ia bayangkan akan didapat bila saja bisa mendapat ‘perempuan’ yang jadi jodoh Habil. Sementara untuk realitas hari ini, ‘perempuan’ cantik yang diburu Qabil bisa saja kita beri nama sumber energi, pangan dan sumber-sumber daya alam yang dianggap strategis lainnya.

Nah, bila pada kasus Habil dan Qabil, kita hanya melihat satu pihak saja -yakni Qabil- yang dituntun oleh syahwat penguasaan terhadap ‘perempuan’ cantik; bisa kita bayangkan kekacauan yang mungkin timbul bila kedua pihak dituntun oleh syahwat kekuasaan yang sama.

Setiap pihak yang terlibat dalam hubungan semacam ini bisa dipastikan akan bertindak berdasar akal instrumentalisnya masing-masing. Sehingga setiap ada benturan, ukuran penilaian yang dipakai adalah menang atau kalah, bukan benar atau salah. Dan -anehnya- kebenaran pada akhirnya selalu diidentikkan dengan pemenang.

Mesti diingat, bahwa bahaya terbesar yang secara intrinsik menyertai pihak yang berhasil memiliki kekuasaan, adalah kecenderungannya yang sangat kuat untuk mengabaikan norma-norma akal sehat -yang lebih berorientasi pada nilai-nilai yang berlaku universal- dalam menyelesaikan masalah.

Pihak yang berkuasa selalu cenderung tergoda untuk menggunakan akal instrumentalisnya sendiri dalam melihat dan menyelesaikan masalah, sambil memaksa pihak lain untuk menerima akal instrumentalisnya sebagai akal sehat universal atau kebenaran obyektif. Tafsirnya terhadap realitas harus dianggap sebagai satu-satunya tafsir yang benar. Sehingga yang terjadi kemudian adalah selalu untuk -meminjam ungkapan Antonio Gramsci- membangun hegemoni makna, dan pada gilirannya dominasi.

Ironisnya, hanya di saat berhadapan dengan lawan yang memiliki kekuasaan yang seimbang dengan dirinya sajalah, manusia baru mungkin untuk dipaksa kembali kepada norma-norma akal sehat yang lebih bisa diterima secara universal. Artinya, dari semula, akal sehat sudah ditundukkan oleh kekerasan inheren di dalam kekuasaan.

Dari sudut pandang ini, sesungguhnya kita bisa melihat bahwa kekerasan fisik sebenarnya hanyalah bagian terluar dari serangkaian kekerasan yang mungkin timbul dari pemanfaatan ketidak-seimbangan hubungan semacam ini.

Setiap tindakan -atau apapun bentuknya- yang dilakukan dengan memanfaatkan ketidak-seimbangan yang ada; pada dasarnya bisa dimasukkan dalam kategori tindakan kekerasan. Ini sebenarnya bahkan sejak awal bisa dilacak dalam narasi-narasi yang diciptakan dan disebarkan untuk menyertai pembangunan sebuah tatanan.

Nah, bila sudut pandang ini kita proyeksikan pada tingkat hubungan politik dan sosial, kita akan segera menemukan betapa nilai-nilai Darwinisme sosial-politik semacam inilah yang subur berkembang dan bahkan menjadi pembentuk tatanan peradaban modern.

***

Tak bisa dipungkiri, tiap peradaban selalu merupakan mosaik kepentingan-kepentingan yang -hampir bisa dipastikan- saling singgung, saling gesek atau malah saling bentur satu sama lain. Yang harus diingat, nilai sebuah peradaban justru terletak pada kemampuannya untuk mengelola lalu lalang kepentingan-kepentingan tersebut, dengan sejauh mungkin meminimalisasi penggunaan kekerasan.

Kalau skala penggunaan kekerasan dipakai sebagai parameter untuk mengukur tinggi rendahnya nilai sebuah peradaban, akan segera tampak betapa peradaban kita sebenarnya tak beranjak jauh -atau bahkan lebih buruk- dibanding peradaban-peradaban yang telah diciptakan di masa lalu.

Saat ini, meski konon berbasis demokrasi dan hak asasi manusia, skala penggunaan kekerasan justru terjadi dalam intensitas yang jauh tinggi dan jumlah korban yang lebih mengerikan. Bayangkan, mengutip Noam Chomsky dan juga penelitian Amartya Sen, sampai dengan tahun ’80 an saja lebih dari 200 juta orang mati akibat kekerasan ideologis, belum lagi yang mati akibat kekerasan fisik. Bisa kita bayangkan pertambahannya sampai sekarang, tiga puluh delapan tahun kemudian.

Tampaknya kita memang lebih suka mewarisi peradaban Qabil. Peradaban yang mengutamakan penggunaan kekerasan untuk memperjuangkan kepentingan, yang lebih mengagungkan jalan kekerasan atas jalan akal sehat, jalan perendahan kemanusiaan atas jalan pemuliaan kemanusiaan.

Celakanya, arus utama peradaban Qabil ini sudah merembes ke hampir semua lini kehidupan, sementara kehidupan keagamaan yang seharusnya menjadi pewaris peradaban Habil yang teduh dan mengutamakan kasih sayang semakin tersingkir dari arena.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *