,

PERADABAN SAMPAH

Anis Sholeh Ba’asyin

Sumber: Ailtje Ni Diomasaigh

“Kamu tidak nyaman dengan simbolisme pantat, karena dalam budaya manusia yang namanya pantat acap dianggap remeh dan bahkan hina…” jelas Mastur.

“Padahal di wilayah pantat ini terdapat dua lubang yang sangat penting bagi manusia…” sambung Masturi.

Menghadapi dua saudara kembar ini, saya benar-benar merasa menjadi orang bodoh. Hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala, itupun supaya dianggap paham saja.

“Manusia punya sembilan lubang. Tujuh di wilayah kepala, dua di wilayah pantat…” lanjut Mastur.

“Semua lubang ini pada dasarnya bisa berfungsi menjadi pintu masuk sekaligus keluar secara biologis…” sahut Masturi.

“Tapi, secara ‘budaya’, hanya dua lubang yang dikategorikan sebagai pintu keluar, yaitu: mulut dan kelaminnya”

“Kalau perempuan?” potong saya.

“Pada prinsipnya sama. Kaitannya dengan pasangan. Pada lelaki menaman, pada perempuan menyemai dan pada akhirnya melahirkan”

“Kelamin adalah simbol reproduksi manusia…”

“Reproduksi ini secara simbolik bisa dimaknai secara luas. Bukan hanya anak-anak biologis, tapi juga ‘anak-anak’ nilai-sistem-struktur, ‘anak-anak’ kebudayaan, ‘anak-anak’ peradaban dan seterusnya…”

“Menurut Ibnu ‘Arabi, perkawinan merupakan kekuatan produktivitas universal yang terdapat di dalam setiap tingkat eksistensi. Akar perkawinan itu bermula dari kehendak awal Tuhan sendiri untuk menciptakan makhluk-Nya…”

“Bermula ketika Tuhan masih dalam Gaib al-Guyub, kemudian dikenal sebagai al-Ahad, kemudian dikenal sebagai al-Wahid, lalu dikenal konsep entitas-entitas tetap (al-A’yan ats-Tsabitah), lalu muncul wujud eksternal (al-wujud al-kharijiyyah), kemudian muncul alam jabarut, alam malakut, alam mulk, sampai ke dalam wujud alam syahadah mutlak seperti mineral.”

“Rangkaian proses itu sesungguhnya adalah bagian dari proses perkawinan, dalam arti terjadinya proses hubungan antar-komponen (jima’) yang melahirkan wujud-wujud selanjutnya. Dalam konteks ini terjadi proses yang satu memasuki yang lainnya (tawalluj), kemudian terjadi prokreasi (tanasul), lalu terjadilah reproduksi (tawallud).”

“Dari posisi sujud ini, kita bisa lihat bahwa yang utama adalah amal. Dengan amallah orang menanam, menyemai dan melahirkan nilai…”

“Dan nilai terbaik adalah nilai yang lahir dari posisi sujud, dimana tujuh lubang yang ada di kepala tunduk menyerah kepada kehendak Allah…”

“Kalau sujud kita tak benar, maka yang kita hasilkan cuma sampah…”

“Lewat dubur…”

“Sampah itu bisa bernama macam-macam…”

“Bisa keirian, kedengkian, ghibah, fitnah…”

“Bisa penipuan, perampokan, pemerkosaan…”

“Bisa keserakahan, penindasan, penjajahan…”

“Pokoknya semua yang masuk kategori dzolim..”

“Semua yang bathil…”

“Apakah bisa disebut sujud kalau produknya adalah sampah?” tanya mereka bersama-sama.

“Sujud adalah puncak lambang ketundukan kita pada Allah…”

“Puncak lambang keIslaman kita…”

“Mungkinkah melahirkan sampah?”

“Mestinya tidak…”

Saya termangu-mangu. Saya merasa ditonjok karena selama ini memuja-muji bangunan nilai yang oleh mereka malah disebut sebagai sampah.

“Padahal sholat bukan cuma sujud…” celetuk saya mengalihkan pembicaraan.

“Kita akan lebih takjub lagi kalau semua kita urai…” jelas Mastur.

“Karena semua berkait paut dengan keseluruhan hidup manusia…” sambung Masturi.

(Bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…