,

PUASA ANCUR-ANCURAN

Anis Sholeh Ba’asyin

Sumber: wallpaperscraft.com

Ingin melihat wajah bangsa nekad? Jangan membayangkan Amerika atau Inggris. Tindakan mereka mengacak-acak dunia jelas bukan produk kenekadan, tapi lebih tepat untuk disebut produk kegilaan.

Sudah pasti bukan juga wajah Kuba, Iran, Venezuela, Bolivia, Nikaragua, Korea Utara atau negara-negara ‘penantang’ lainnya. Tindakan mereka melawan dominasi globalisasi ala Amerika dan Inggris tidak tepat juga untuk dikategorikan sebagai kenekadan, karena itu semua lebih merupakan hasil keberanian yang penuh perhitungan.

Kalau ingin melihat wajah kenekadan, tak usah bingung mencari contohnya. Cukup dengan melihat televisi atau membaca koran atau mengamati media sosial dengan viralnya akhir-akhir ini, kita akan segera melihat wajah itu dengan jelas terpantul disana.

Lihat saja, dari hari ke hari, dari jam ke jam, tanpa jeda media massa cetak maupun elektronik apalagi media sosial, telah menjadi panggung beragam kenekadan bangsa kita. Mulai dari leceh-melecehkan, ancam-mengancam, serang-menyerang kelompok-kelompok yang tiba-tiba berperan bak gerombolan di belantara, dan seterusnya dan seterusnya.

Kondisinya benar-benar seperti toko serba ada, semua menu lengkap tersaji: mulai dari bully-membully sampai dengan ‘pengadilan lewat media maupun jalanan’ terhadap orang atau kelompok yang  yang ditengarai sebagai  ’lawan’. Alasannya pun tak kalah kaya: mulai atas nama agama, toleransi, HAM, lingkungan sampai atas nama gender.

Luar biasa. Kita benar-benar disuguhi tontonan yang luar biasa menghibur. Telivisi, koran dan media sosial benar-benar all out dimanfaatkan menjadi panggung hiburan bagi rakyat yang perutnya sedang terus melilit ditimpa harga-harga yang melambung.

Akhir-akhir ini, saya bahkan mulai berpikir: jangan-jangan inilah salah satu kunci pertahanan kita sebagai sebuah bangsa, sehingga selalu bisa bertahan menghadapi segala bentuk tekanan kesulitan hidup yang seperti tanpa henti terus mendera.

Tampaknya tokoh-tokoh kita selalu punya ide kreatif untuk menciptakan ruang hiburan yang cukup memadai bagi rakyatnya.  Sebagian kelas menengahnya bahkan sudah sangat-sangat ahli membuat ribuan panggung keributan, sehingga pemerintah bisa duduk manis tanpa harus mengeluarkan banyak tenaga mengurus recokan rakyat.

Sekarang di warung-warung kopi, sambil melepas kesumpekan, rakyat punya bahan yang selalu baru dan menarik untuk saling berdebat dan meledek. Saya sendiri sering tertawa mendengar percakapan mereka yang polos.

”Wah, saya ditipu koran dan tivi! Pertama melihat cerita seorang Ibu di Serang, saya marah-marah terhadap sepak terjang Satpol PP yang seenaknya mengangkut barang dagangannya, hanya karena membuka warung di siang hari Ramadhan! Lebih marah lagi setelah saya baca bahwa dia seorang Ibu yang miskin! Ee ternyata cerita itu keliru! Ternyata warungnya ada tiga, jadi bukan miskin namanya” kata salah seorang dari mereka sambil terkekeh.

“Iya, tapi caranya kan tidak harus sekasar itu. Lagi pula, kenapa yang dirazia yang kecil-kecil; yang gede-gede kok aman saja…!” sergah lainnya.

“Kepala boleh panas, tapi hati kan harus dingin. Satpol PP kan cuma bertugas sesuai dengan Perda; dan Perda pastinya juga disusun demi kemaslahatan umum” sahut seorang yang sudah agak berumur, yang melihat tampilan sangat mungkin pensiunan pegawai negeri.

“Tapi Perda itu sendiri kan wajib dipersoalkan. Itu jelas tidak toleran, masak semua orang dipaksa puasa. Gila! Seharusnya Perda-perda ngaco semacam itu tak boleh ada di Indonesia” sahut seorang pemuda yang tampak seperti mahasiswa semester lima atau enam.

Warung kopi mendadak hening. Orang sibuk dengan dirinya masing-masing. Ada yang minum kopi, ada yang melukis rokok dengan ampas kopi, ada yang makan pisang goreng, ada juga yang memain-mainkan asap rokoknya.

“Adik percaya demokrasi?” tanya seorang bertubuh ceking, setengah baya, memecah keheningan.

“Tentu saja percaya!” sahut sang mahasiswa dengan meyakinkan.

“Adik tahu, prinsip dasar demokrasi kan mengagungkan suara rakyat…” sambung si ceking.

“Kalau soal itu, jelas saya tahu..!” jawab sang mahasiswa setengah tersinggung.

“Nah, dalam demokrasi, lebih-lebih demokrasi kita yang nyaris liberal ini, setiap politisi dan partai politik kan selalu berebut simpati rakyat…!” lanjut si ceking.

“Maksudnya?”

“Ya jelas tho Dik, politisi dan partai politik kan butuh suara rakyat; jadi sesekali mereka juga harus membuat peraturan yang diperkirakan bisa menarik simpati sebagian besar rakyatnya. Itu konsekuensi demokrasi yang kita pilih!”

“Tapi, itu tidak toleran..!”

“Berarti pada dasarnya Adik tidak percaya pada bentuk demokrasi yang sedang kita jalani; karena apa yang Adik anggap tidak toleran itu sebenarnya bentuk toleransi dalam bingkai demokrasi yang kita pilih”

“Untung Perda-perda semacam itu sudah dicabut semua…!”

“Siapa bilang?”

“Koran, medsos…”

“Nah, koran lagi, medsos lagi…Wong Menterinya saja bilang kalau pihaknya tidak mencabut Perda-perda tersebut kok. Lagi pula, mencabut Perda tidak segampang itu. Perda hanya bisa dibatalkan oleh Kepala Daerah dan DPRD setempat atau lewat judicial review di Mahkamah Konstitusi”

Suasana warung kembali hening.

“Setidaknya, sekarang si Ibu tersebut bisa bernafas lega, karena kasus tersebut dia dibantu banyak orang, konon jumlahnya dekat-dekat angka dua ratus lima puluh juta rupiah-lah!” celetuk salah seorang lainnya.

“Luar biasa memang bangsa kita ini…” sahut kawan si ceking. Dibanding si ceking, dia lebih gemuk. Berkopiah dan bersarung.

“Maksud sampeyan?” tanya orang tadi.

“Kita ini tampaknya sudah jadi masyarakat sinetron. Gampang disihir media, baik untuk marah-marah maupun untuk berurai air-mata…” jelas si agak gemuk sekenanya.

“Tapi terharu, terketuk hatinya, empati dan membantu orang kan perbuatan mulia…?”

“Siapa bilang tidak? Masalahnya bukan pada terharu, terketuk hati, empati atau bantuannya…tapi momentumnya! Kenapa mereka baru berlomba membantu setelah dirangsang oleh berita media?”

“Lha, dari pada sama sekali tidak?”

“Jelas tak apa-apa. Tapi itu menunjukkan bahwa bangsa kita masih gampang dituntun hawa nafsu ketimbang akal sehatnya?”

“Lho empati dan bantuan kok muncul dari hawa nafsu? Maksud situ bagaimana?”

“Nafsu itu memproduksi hawa. Sementara yang namanya hawa itu sifatnya selalu menutupi akal sehat dan menuntun orang untuk berbuat berlebihan.”

“Lantas, apa hubungannya dengan masalah ini?”

“Begini Mas, akal sehat itu pertama-tama akan menuntun orang untuk bertindak sesuai skala prioritas. Kalau dalam Islam, skala prioritas itu ada lima kategori: wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram. Yang wajib itu harus dijalankan lebih dahulu sebelum yang sunnah apalagi mubah. Yang haram itu harus dihindari lebih dahulu sebelum yang makruh.”

“Saya masih belum faham. Empati dan membantu orang susah kan juga wajib!”

“Menurut sampeyan, siapa yang paling wajib kita bantu kalau kita punya kelebihan rezeki?”

“Mestinya keluarga sendiri yang membutuhkan…”

“Setelah itu bisa ditunaikan, siapa lagi yang wajib kita bantu?”

“Tetangga-tetangga”

“Setelah itu?”

“Orang satu desa”

“Setelah itu?

“Ya seterusnya…!”

“Kalau ada orang satu desa masih keleleran, wajibkah kita membantu orang dari desa lain?”

“Jelas tidak!”

“Kalau tetangga kita masih keleleran, wajibkah kita membantu orang satu desa yang bukan tetangga?”

“Jelas tidak!”

“Kalau keluarga kita sendiri masih keleleran, wajibkah kita membantu tetangga?”

“Jelas tidak!”

“Artinya, kalau keluarga kita sendiri masih keleleran, membantu tetangga posisinya menjadi sunnah. Kalau tetangga masih keleleran, membantu orang satu desa yang bukan tetangga posisinya menjadi sunnah, dan seterusnya dan seterusnya…”

“Lha sunnah kan tetap baik dilakukan tho..?”

“Baik, kalau yang wajib sudah ditunaikan. Kalau belum? Masak orang melakukan sholat sunnah rawatib, tapi malah meninggalkan sholat fardhunya? Kan lucu. Lagi pula, apapun yang sunnah itu baru beroleh pahala kalau dilakukan dengan ikhlas sepenuhnya; kalau wajib, baik dilakukan dengan ikhlas atau pun tidak dia tetap beroleh pahala. Kalau sampeyan bekerja di kantor, dan tugas sampeyan itu mengurus administrasi; lantas sampeyan malah sibuk membersihkan lantai seluruh kantor tanpa mengerjakan tugas administrasi sampeyan; kira-kira bagaimana penilaian atasan dan kawan-kawan sekantor sampeyan?”

Sekali lagi, suasana warung kembali hening.

”Makanya jangan gampang percaya pada apa yang dilihat atau dibaca, apalagi sekedar dari media, lebih-lebih dari medsos! Kita geger tentang satu orang yang kita anggap telah didzolimi, hanya karena media membesar-besarkannya. Sementara ada ratusan atau bahkan ribuan orang yang mengalami nasib yang sama, atau bahkan lebih, tapi sama sekali tak membuat kita bereaksi; hanya karena media tak memberitakannya” suara si ceking kembali memecah keheningan.

”Lihat saja sekarang, semuanya jadi serba lucu. Orang berpihak, mengutuk atau membela sesuatu tanpa pernah benar-benar tahu situasi nyatanya di lapangan. Kita ribut, berdebat, gontok-gontokkan atas sesuatu; tanpa pernah mencoba tabayyun apalagi mengecek langsung kondisi sebenarnya di lapangan. Akibatnya ya seperti ini, persis seperti orang yang gelut berebut kunci di ruang gelap, padahal kuncinya ada di luar ruangan” begitu lanjutnya.

”Tapi kan tidak semua bisa kita tabayyuni, tidak semua bisa kita cek di lapangannya?” tanya salah seorang diantara mereka.

”Itulah masalahnya! Kalau kita tak punya kemampuan untuk tabayyun atau mengecek; jangan ikuti hawa nafsu untuk ikut komentar, lebih baik diam. Toh bukan kewajiban kita mengurusnya!” jawab si agak gemuk.

”Lha kalau sudah begini, terus bagaimana soal hidup kita yang makin sulit dan harga-harga yang terus naik?” tanya seorang tua yang dari tadi diam saja.

Semuanya diam. Warung kopi tersebut tiba-tiba terasa senyap. Saya merasa, kelucuan topik tentang warteg tiba-tiba menguap, diganti sergapan rasa getir yang dalam!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…