in

Puasa: Landasan Keberagaman

Dulu, ketika Khaled Abou El Fadl -salah satu ikon cendekiawan muslim ‘liberal’ yang tinggal di AS- menanggapi tudingan minor pasca 9/11 dengan membeberkan argumen-argumen tentang toleransi yang diajarkan dan direalisasikan dalam sejarah Islam; banyak tanggapan muncul

Sumber: http://roguehealthandfitness.com

Dulu, ketika Khaled Abou El Fadl -salah satu ikon cendekiawan muslim ‘liberal’ yang tinggal di AS- menanggapi tudingan minor pasca 9/11 dengan membeberkan argumen-argumen tentang toleransi yang diajarkan dan direalisasikan dalam sejarah Islam; banyak tanggapan muncul. Sebagian tanggapan justru menekankan bahwa soal utamanya bukan keberagaman, toleransi atau lainnya.

Bagi mereka, soal utamanya adalah rasa keadilan yang terluka dan kesetaraan yang tak terealisasi dalam interaksi antar bangsa. Dalam situasi begini, tak terlalu relevan untuk berbicara tentang apakah suatu masyarakat secara intrinsik punya nilai-nilai pendukung keberagaman atau tidak, karena situasi ‘penindasan’ akan selalu melahirkan pasangan alamiahnya sendiri: ‘perlawanan’. Radikalisasi tidak muncul dari ruang hampa, ia muncul dari konstruksi realitas dengan segenap konfigurasi kepentingan yang bertarung di dalamnya.

Alhasil, ketertindasan akan selalu menjadi api yang efektif untuk radikalisasi, baik dengan maupun tanpa agama. Di ranah sekular, kita bisa mencatat bagaimana orang juga memanfaatkan jargon-jargon demokrasi untuk memobilisasi perlawanan terhadap penindasan yang dilakukan oleh penguasa komunis; dan memanfaatkan jargon-jargon Marxis untuk melawan kesewenangan penguasa kapitalis. Meminjam ungkapan Dom Helder Camara: akarnya adalah ketidak-adilan. Ketidak-adilanlah yang merupakan kekerasan pertama, yang akan menciptakan spiral kekerasan.

***

Yang kita tahu, perbedaan adalah fakta yang tak bisa ditolak. Bahkan istilah kembar identikpun tak serta merta berarti tak memiliki perbedaan. Pemetaan genetik memberi sedikit gambaran betapa nyaris mustahilnya dua manusia dilahirkan secara persis sama. Selalu ada saja perbedaan yang tersisa.

Bila dalam tataran fisik saja perbedaan sudah menggejala demikian nyata, apalagi bila kita bicara dalam tataran psikologis, intelektual atau spiritual; tentu varian perbedaannya akan menjadi semakin kompleks dan rumit. Bahkan -karena demikian rumit dan nyaris tak terbatasnya- pemetaan varian-varian perkembangan psikologis, intelektual dan spiritual manusia juga nyaris mustahil dilakukan. Perkembangan tiap individu selalu khas dan unik, sehingga -sama seperti yang terjadi dalam keragaman fisik- pengulangan juga hampir tidak mungkin terjadi. Kesamaan kebangsaan, kesukuan atau bahkan keluarga; tak serta merta menghapus potensialitas perbedaan.

Kompleksitas perbedaan ini -karena sifatnya yang tak stabil dan terus berkembang- justru menjadi tenaga pendorong dinamika pergerakan sejarah manusia. Akumulasi perkembangan fisik, psikologis, inteletektual dan spiritual manusia dalam merespon realitas alam dan setting sosial-kulturalnya inilah, yang secara konstan akan terus mengubah wajah budaya dan peradaban. Dinamika ini berlaku baik di tingkat intra maupun antar budaya dan peradaban.

Perbedaan-perbedaan inilah yang menjadi tonggak penting keberagaman. Tanpa perbedaan, keberagaman niscaya tak pernah ada. Sementara keberagaman sendiri secara intrinsik mengandaikan diterimanya watak partikular tiap satuan identitas budaya dan peradaban yang ada, sehingga masing-masing satuan identitas harus menghindari klaim universalitasnya. Penyikapan terhadap perbedaan justru akan selalu menjadi batu uji terpenting bagi sejarah manusia: diperlakukan sebagai sumber konflik atau ladang pengayaan khasanah peradaban itu sendiri?

***

Meski hampir semua orang menerima keberagaman identitas sebagai fakta, tapi tidak pernah jelas seberapa besar peran kesadaran tentang fakta ini mempengaruhi konstruksi pikiran dan menciptakan rangkaian tindakan yang diperlukan dalam merangkai hubungan antara dua atau lebih identitas yang berbeda.

Ini karena kesadaran tentang keberagaman pastilah bukan satu-satunya kesadaran yang mempengaruhi konstruksi pikiran apalagi konstruksi sosial. Ada banyak kesadaran lain yang tak kalah berpengaruh. Kesadaran tentang keadilan atau kesetaraan misalnya, kalau mau menyebut beberapa yang positif; atau yang negatif, kesadaran tentang supremasi atau superioritas misalnya.

Ini menunjukan betapa akan tidak stabilnya pemaknaan yang bisa diberikan bahkan pada fakta yang sudah dianggap final seperti keberagaman sekalipun. Ketidak stabilan ini akan lebih rumit lagi, bila disadari bahwa pemaknaan terhadap keadilan-kesetaraan atau supremasi-superioritas, pada dasarnya juga akan sama tidak stabilnya dan sangat tergantung pada ruang-waktu dan setting sosial-budaya yang melahirkannya.

Pada titik ini, menarik untuk mengutip ayat yang sering dipakai orang berkaitan dengan keberagaman. “Hai manusia, sungguh Kami ciptakan kamu dari seorang lelaki dan seorang perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal. Sungguh yang paling mulia diantaramu disisi Allah adalah yang paling bertaqwa” (QS, 49:13).

Ketika bicara tentang ayat ini, biasanya orang mengatakan bahwa keberagaman adalah sunatullah dan untuk mengeliminasi efek negatifnya orang diminta untuk ber-ta’aruf, saling mengenal kebiasaan (adat) dan memahami satu sama lain. Ta’aruf adalah jembatan yang harus dibangun untuk meredam potensi konflik antar identitas.

Satu hal penting yang sering terlewat ketika orang bicara tentang ayat ini, adalah penjelasan di akhir ayat, yang seharusnya menjadi kunci ta’aruf. Penekanan kalimat ‘yang paling mulia diantaramu di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa’, seharusnya menegaskan bahwa ta’aruf tidak mungkin terbangun tanpa landasan kesetaraan. Tak mungkin membangun pemahaman bila sejak awal muncul klaim-klaim superioritas satu pihak.

Karena itu, paling tidak menurut ayat ini, penilaian atas kemuliaan tidak diserahkan pada manusia, tapi dikembalikan pada Allah. Manusia tak berhak membuat standar kemuliaannya sendiri, karena pasti akan subyektif dan bias. Kemuliaan juga tidak diukur dengan standar nilai tertentu, tapi lewat proses pencapaiannya; yakni ketaqwaan.

Untuk memperoleh perspektif yang lebih tepat, dalam konteks ini, taqwa -yang secara semantik berarti realisasi rasa takut pada Allah dalam perbuatan- lebih baik dimaknai sebagai sikap ‘menjaga diri agar tidak melampaui batas’, yang di dalamnya termuat pula pengertian kehati-hatian dalam bertindak. Dengan demikian, menjaga diri adalah kunci hubungan dalam keberagaman kenyataan. Menjaga diri untuk selalu berada pada koridor yang tersedia, menjaga diri untuk tidak merasa lebih baik, menjaga diri untuk tidak merasa lebih benar dan seterusnya.

Dengan demikian, ta’aruf tidak akan terlaksana bila ada pihak yang memaksakan universalitas nilai-nilainya sendiri ketika berhadapan dengan nilai-nilai lain. Tanpa taqwa, ta’aruf tak akan terlaksana. Yang ada tinggal monolog dan hegemoni nilai satu nilai atas nilai lain. Dan ini akan memancing konflik terus menerus.

Yang menarik, kita diperintah puasa adalah untuk meraih kondisi taqwa. Atau, kalau ini kita hubungkan dengan paparan diatas, kesimpulannya bisa berbunyi: hanya mereka yang berpuasalah yang mampu terus menerus meraih kondisi takwa, dan hanya yang berhasil meraih kondisi taqwa sajalah yang mampu membangun peradaban yang benar-benar menjaga dan memelihara keberagaman.

***

Keberagaman memang satu hal, menyikapi keberagaman adalah lain hal. Dan modernitas benar-benar piawai memanfaatkan jarak dua posisi ini. Di satu sisi mengkampanyekan keberagaman, di sisi lain tak kunjung henti mengkampanyekan dan malah cenderung memaksakan klaim universalitas peradabannya sendiri.

Silang sengkarut konflik dan kekerasan akhir-akhir ini hanya menegaskan satu hal: kita semua belum memiliki kematangan emosional, intelektual dan spiritual dalam berperadaban. Ini karena kita gagal bertaqwa, salah satunya karena kita juga gagal berpuasa.

***

Anis Sholeh Ba’asyin, Pengasuh Suluk Maleman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *