in

SEMBUNYIKAH KITA KETIKA ALLAH MENYAPA?

Anis Sholeh Ba’asyin

Ramadlan adalah bulan dimana pintu-pintu langit lebar dibuka; dan bukan cuma lebar dibuka, tapi juga sekaligus didekatkan pada kita.

Bila di bulan-bulan lain engkau butuh tenaga ekstra untuk berjalan ‘mendatangi’ pintu-pintu itu, dan sangat mungkin engkau masih harus mengetuknya; maka di bulan Ramadlan pintu-pintu itu yang mendatangi dirimu, dengan pintu yang sudah terbuka tanpa engkau perlu mengetuknya.

Begitu cara seorang Kyai sepuh menjelaskan keutamaan Ramadlan pada saya. Tentu saja, begitu beliau biasa melanjutkan, ini bukan perumpamaan yang sepenuhnya tepat. Meski demikian inilah perumpamaan yang paling mendekati gambaran keutamaan Ramadlan.

Peradaban modern tampaknya masih belum cukup ‘dewasa dan matang’ untuk memahami kenyataan-kenyataan semacam ini. ‘Spiritualitas’ modern (kalau memang ada yang bisa disebut demikian) sepertinya baru bisa meraba hal-hal yang umum. Orang baru mengenal jenis hewan, tapi tidak mengenal spesifikasi-spesifikasi sapi-kerbau-kambing dan seterusnya.

Dari sudut pandang yang sama, kita tidak akan melihat beda bulan Ramadlan dengan bulan lainnya seperti kita tak melihat beda sholat yang satu dengan sholat lainnya.

Dalam peradaban yang tingkat keruhaniannya sudah demikian berkembang, sebenarnya kesadaran semacam ini masuk kategori kesadaran kanak-kanak.

Kadang kesadaran ‘kanak-kanak’ semacam ini bahkan melambung ke kutub ekstrim, dengan memeras segala sesuatu ke maknanya yang dianggap paling hakiki. Kalau secara ‘hakiki’ sholat dianggap sebagai cara untuk menjauhkan orang dari kejahatan; maka selama orang mampu menjauhkan diri dari kejahatan, sholat tak lagi penting. Kalau secara ‘hakiki’ puasa dianggap sebagai cara untuk menemukan kesadaran tentang kefaqiran; maka selama kita telah mampu menumbuhkan kesadaran tersebut, puasa tak lagi jadi prioritas.

Tentu saja cara berpikir semacam ini muncul dari anggapan bahwa kesadaran manusia itu statis. Begitu ia muncul, ia akan terus menetap. Padahal kenyataan tidak menunjukkan demikian. Kesadaran manusia itu tidak stabil, terus berubah-ubah dari waktu ke waktu.

Syaikh Abu Yazid al-Busthami pernah ‘dinasehati’ oleh santri-santrinya yang tidak tega melihat beliau terus-menerus beribadah dengan intensitas yang tinggi di usianya yang sudah renta.

“Ya syaikh, kenapa engkau masih bersulit-sulit puasa sunnah, sholat berjamaah, sholat tahajjud dan semua ibadah sunnah lainnya, padahal usiamu sudah sangat renta! Bukankah ibadahmu selama ini sudah lebih dari cukup?”

“Justru karena itu, bagaimana saya bisa meninggalkan semua yang sudah membuatku seperti sekarang ini?” begitu jawaban Syaikh Abu Yazid al-Busthami.

Nah, kalau kita terus beribadah, tapi berhenti dan merasa cukup puas dengan yang formal, lantas bagaimana? Kita sholat, puasa, zakat, haji tapi tidak juga menumbuhkan kesadaran keruhanian yang matang dari hari ke hari?

Ketika hal ini saya tanyakan pada Kyai sepuh diatas, dengan singkat beliau menjawab: Lho, sembunyikah engkau ketika Allah menyapamu?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *