,

SUJUD WASATHAN

Anis Sholeh Ba’asyin

Sumber: SalatBuddy

Saya termangu-mangu. Kehadiran Abdullah kedua ini makin menambah runyam pikiran saya. Masjid tapi bukan masjid? Sujud tapi tak sujud? Puasa tapi tak puasa? Subhanallah, saya adalah bagian dari itu semua. Kalau nalar tersebut diteruskan, kesimpulannya jadi serba tak enak: syahadat tapi tak syahadat, sholat tapi tak sholat, zakat tapi tak zakat, haji tapi tak haji. Lantas apa yang dilakukan selama ini? Wah, celakalah saya.

Di tengah kecamuk pikiran, tiba-tiba nongol Mastur dan Masturi, dua saudara kembar yang lebih dari dua puluh tahun menghilang. Dulu, bertahun-tahun kami nyantri bersama di sebuah pesantren. Tanpa sebab yang jelas, mereka menghilang, tak terlacak jejaknya. Mereka cuma bilang pada orang tuanya: akan pergi menjalankan perintah Mbah Kyai. Apa isi perintahnya, tak dijelaskan.

Dua saudara kembar ini nyaris identik, sehingga agak sulit dibedakan. Kadang orang punya masalah dengan Mastur, tapi yang dikejar malah Masturi. Dan sebaliknya, dan seterusnya. Untuk menghindarkan hal semacam itu, keduanya bersepakat: Mastur memelihara jenggot, Masturi memelihara jenggot dan kumis; sehingga gampang dibedakan.

“Kamu masih mengenali kami?” tanya salah satu dari mereka.

“Pasti!” jawab saya yakin. Saya menunjuk Mastur yang hanya berjenggot dan Masturi yang berkumis dan berjenggot.

“Terbalik..” sahut Mastur terkekeh.

“Kami berganti posisi, sekarang Mastur yang berkumis dan berjenggot. Saya cuma berjenggot saja…” sambung Masturi.

Kami ngobrol kesana-kemari, mengenang kembali saat kami masih bersama di pesantren, sambil sesekali meminum kopi atau memakan pisang goreng yang dihidangkan isteri saya. Di tengah obrolan, saya bercerita tentang kehadiran dua orang yang mengaku bernama Abdullah, yang satu bilang dari timur ke barat, yang lain bilang dari barat ke timur.

Mastur dan Masturi saling berpandangan, lantas bersama-sama menyungging senyum tipis.

“Kenapa?” Saya penasaran.

“Tentang sujud? Itu belum semua…” jawab Mastur.

“Ada banyak hal tentang sujud yang mungkin belum kamu pelajari…” lanjut Masturi.

“Sebenarnya jawaban tentang simahum fii wujuhihim min atsaris sujud itu belum lengkap…Masih ada hal-hal, yang mungkin karena tidak langsung berkait dengan pesan yang hendak disampaikan, belum diuraikan padamu” sambung Mastur.

Belum diuraikan? Wah, penjelasan Abdullah tentang sujud saja belum sepenuhnya saya pahami, kini malah dibilang bahwa itu belum semuanya. Tambah pusing saya.

“Maksudnya?” tanya saya.

“Yang disampaikan padamu itu baru satu sisi..” ungkap Mastur.

“Seperti ayat Al Qur’an, semua kenyataan ini bersisi-sisi sekaligus berlapis-lapis…” sambung Masturi.

“Sehingga bisa didekati dari banyak sisi dan lapis…”

“Meski, kalau mau berjalan ke titik terjauhnya, pada akhirnya semuanya selalu membentuk bulatan sempurna, sehingga semua sisi dan lapis menjadi sama benar”

“Dan hanya mereka yang sudah memahami kenyataan sebagai bulatan sempurnalah yang bisa menyikapi segenap sisi dan lapisnya dengan benar, tanpa mempertentangkan apalagi mengadunya”

Saya terbengong, kedua saudara kembar ini saling menimpali pembicaraan seperti muncul dari satu kepala saja.

“Sebelum bicara sujud, mari kita lebih dahulu bicara tentang posisi anatomi tubuh manusia” lanjut Mastur.

“Dalam kondisi normal, wilayah tengah dalam anatomi tubuh manusia itu terletak dimana?” tanya Masturi.

“Perut!” jawab saya sekenanya.

“Coba diukur…” ujar Mastur.

Setelah kami sibuk mengukur, dari batas atas perut ke ujung kepala, dan batas bawah perut ke telapak kaki, ternyata posisi perut tidak di tengah. Kami coba ukur lagi, dengan cara yang sama, ternyata wilayah tengah adalah wilayah pantat.

“Nah, sekarang coba perhatikan posisi sujud…”

“Yang paling rendah adalah kepala dan kaki, yang paling tinggi adalah pantat…!”

“Artinya, yang utama dan mulia kalau dilihat dalam posisi sujud adalah posisi tengah, posisi wasath. Karena itu kita disebut ummatan wasathan..”

“Jadi, lahirnya ummatan wasathan itulah wujud sebenarnya dari sujud, itulah bentuk simahum fii wujuhihim min atsaris sujud…”

“Karena out put dan out come sujud adalah sikap wasathan, tidak ekstrim ke arah manapun”

“Wah, kok seperti othak-athik mathuk gitu…” celetuk saya.

“Terserah kamu menafsirkan. Kalau sisi dan lapis seperti ini kamu tolak, agamamu akan kering, karena dihapus nilai simboliknya…”

“Masih ada sisi lain dari sujud yang tak kalah menarik terkait dengan out put dan out come tersebut…”

“Yaitu kalau kita hubungkan dengan sembilan lubang yang ada di tubuh manusia…”

Saya terbengong-bengong.

(Bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…