in

TAFSIR BENCANA DAN KAMBING HITAMNYA

Anis Sholeh Ba’asyin

BAGI setiap bencana, hampir bisa dipastikan, selalu ada tiga terdakwa yang dituding sebagai dalangnya: Tuhan, manusia, atau alam.

Kebutuhan manusia untuk memperoleh kejelasanlah yang menciptakan semua ini. Segala sesuatu yang tidak diketahui dan tidak jelas akan selalu menakutkan serta dipandang sebagai ancaman. Karena itu -untuk mengusir ketakutan akan ancaman- tafsir perlu diciptakan dan pengetahuan perlu disusun.

Meski, pada akhirnya kita harus menerima kenyataan bahwa tidak semua tafsir mengurai masalah, tidak semua penjelasan membuat kejelasan dan tidak semua pengetahuan membuat tahu.

*****

Tuhan, adalah prioritas pertama untuk duduk di kursi terdakwa. Maka, muncul tafsir, bencana adalah siksa atau adzab Tuhan untuk suatu kaum.

Padahal, tidak seorang pun memiliki otoritas mewakili Tuhan untuk menafsirkan demikian. Yang terjadi adalah tidak lebih dari sekadar simplifikasi dan generalisasi berlebihan terhadap ayat dalam kitab suci, baik Alquran, Injil, maupun Taurat. Terutama ayat yang menginformasikan hukuman bagi kaum di masa lalu.

Padahal, paling tidak ada dua faktor penting yang hilang bila analogi semacam itu dibuat. Pertama, dalam penjelasan kitab suci, siksa (atau adzab) bagi suatu kaum, selalu didahului dengan kehadiran seorang Rasul. Bila misi Rasul untuk mengingatkan dan menyampaikan ancaman tak digubris, barulah siksa diturunkan. Faktor ini jelas hilang dalam ‘tafsir siksa’ Tuhan modern.

Kedua, ‘tafsir siksa’ ini juga lupa memperhitungkan masalah tingkat kehancuran yang ditimbulkan sebuah bencana. Dalam kitab suci, siksa atau adzab semacam ini selalu bersifat membinasakan. Artinya, eksistensi kaum yang ‘disiksa’ selalu sirna dari muka bumi. Kita tahu, pasca periode rasul-rasul, hal ini tak tercatat pernah terjadi lagi.

Padahal, di luar ‘tafsir siksa’ itu, ada dua tafsir yang lebih positif. Pertama, tafsir hukuman; untuk menghapus dosa-dosa (yang justru bisa dibaca sebagai penyelamatan). Kedua, tafsir cobaan; untuk mengangkat derajat (yang justru bisa dibaca sebagai pemuliaan).

Meski demikian, kecuali korban, tak seorang pun berhak menggunakan tafsir ini -terutama tafsir hukuman- untuk membaca bencana. Karena, di luar korban, sangat mungkin tafsir ini kembali berkembang menjadi penghakiman.

Meski, sebagai konsekuensinya, karena dikembangkan oleh korban, kedua tafsir ini akan selalu bersifat subjektif. Tapi, justru di sinilah ia mampu memainkan peran positif. Yakni membuka ruang harapan bagi para korban.

*****

Biasanya, kalau bingung menjelaskan peran Tuhan, yang segera ditengok untuk naik ke kursi terdakwa, adalah manusia. Perilaku manusia, baik yang langsung (perusakan terhadap alam), maupun tak langsung (secara sistemik mengabadikan dosa sosial-budaya) akan ditunjuk sebagai faktor utama pemicu bencana.

Tentu saja, tak akan ada yang menentang keterdakwaan manusia, bila bencana yang terjadi secara langsung bisa dihubungkan dengan ulah mereka. Tidak keberatan, bila yang menggunduli hutan dipersalahkan atas bencana banjir atau tanah longsor. Atau, yang ceroboh dalam proses penambangan dipersalahkan atas pencemaran.

Meski demikian, bahkan untuk keterdakwaan ini pun, pada dasarnya keberatan tetap mungkin diajukan. Fakta menunjukkan bahwa kebanyakan korban bencana semacam ini sering kali malah bukan pihak yang langsung melakukan perusakan atau pencemaran.

Jika tafsir ini menemui kebuntuan, alamlah sebagai terdakwa berikutnya. Struktur geologis dan geofisika yang rapuh akan menyebabkan bencana tanpa memandang tingkat dosa atau kesucian korbannya.

Maka dijelaskanlah, bencana adalah sekadar istilah budaya. Sesuatu disebut bencana bila ia menyangkut manusia atau propertinya. Sementara gejala atau kejadian yang sama tidak akan dinamai bencana bila ia tak menciptakan kerugian signifikan bagi manusia atau propertinya.

Jadi korban manusia dan propertinya, dalam perspektif ini, dilihat sebagai sekadar collateral damage, korban-korban tak disengaja. Kembali, manusialah yang dipersalahkan, bukan karena dosa, tapi karena tidak hati-hati menempatkan dirinya di wilayah yang berbahaya.

Atau karena manusia ternyata lebih bodoh dari hewan. Hewan selalu berhasil mengembangkan early warning system yang canggih dalam mendeteksi bencana; sesuatu dengan segenap kecanggihan ilmu justru tak bisa dikembangkan manusia.

Ini adalah penjelasan yang menenangkan. Orang tak perlu merasa bersalah, atau bersikap rendah diri karena merasa telah disiksa Tuhan. Yang dibutuhkan hanyalah pemetaan yang akurat terhadap wilayah rawan bencana, sehingga orang bisa menghindar sejauh-jauhnya, atau membangun properti yang mampu menahannya.

Tapi, celakanya, tafsir ini terasa menyederhanakan persoalan. Karena, ketika realitas mulai diteropong dari sisi kuantitas materi dan energi paling kecil yang membentuknya, menjelaskan bencana semata-mata sebagai proses geologis dan geofisika justru tampak seperti memotong pohon dari akar tempat tumbuhnya.

Kalau kita menengok fisika kuantum seperti dirintis Niels Bohr, Werner Heisenberg atau Erwin Schrodinger, penjelasan yang didapat justru sebaliknya. Kita justru ditunjukkan betapa saat materi diteropong sampai ke unsur terkecilnya, segera tampak bahwa susunan atom, partikel-partikel subatom, ternyata merupakan pola-pola dinamis yang tidak hadir sebagai kesatuan yang terisolir, tapi sebagai bagian integral dari suatu jaringan kerja yang tak lepas dari proses interaksi.

Dari sudut pandang ini, semesta justru tampak sebagai samudra gelombang energi raksasa, sebuah gerak dan aktivitas abadi yang muncul dari interaksi ‘atomik’ dan ‘subatomik’ segenap unsur yang ada di dalamnya. Karena itu, alam -termasuk proses geologis dan geofisikanya- tak lagi bisa dipandang sebagai suatu entitas yang berdiri sendiri dan mandiri. Ia bergerak, berkembang, dan berubah dalam interaksinya dengan unsur lain yang ada di semesta, termasuk -tentu saja- manusia.

Apa yang ditegaskan fisika modern ini, tentu membuat kita tak dapat lagi tenang sekadar dengan tafsir ‘faktor alam’. Celakanya, untuk membangun tafsir baru, kita sudah kehabisan terdakwa.

*****

Ketika semua tafsir terasa tidak memberi penjelasan yang memuaskan, yang dibutuhkan mestinya bukan lagi tafsir baru, tapi justru cara yang lebih tepat untuk menyikapi realitas.

Kenyataan begitu kompleks, dengan ketakterhinggaan jumlah unsur yang tiap saat berinteraksi. Jelas, setiap gerak hati, setiap pikiran, setiap kata, setiap sikap, apalagi tindakan manusia adalah energi-energi yang lepas ke alam semesta. Energi-energi yang akan berinteraksi dengan segenap energi binatang, tumbuhan, benda-benda; dan membuat struktur alam semesta selalu berproses untuk membentuk dan membentuk ulang dirinya secara terus-menerus.

Belum lagi bila faktor Tuhan kita masukkan, sudah pasti kompleksitasnya tak akan bisa tercerap oleh pengetahuan kita. Akibatnya, setiap tafsir yang kita buat selalu akan bersifat artifisial, karena sudah pasti hanya akan memotret apa yang kita sangka kita tahu.

Sudah pasti pula, bahkan apa yang mungkin bisa dikategorikan sebagai ‘benar-benar’ kita ketahui pun, hanya akan merupakan potongan kecil yang tak terlalu berarti untuk memahami semesta realitas yang begitu kaya dan tak terduga.

Kita sekadar tahu, setiap bencana sudah pasti melibatkan faktor manusia dan alam; tanpa pernah tahu bagaimana interaksi faktor-faktor ‘atomik’ dan ‘subatomik’-nya berakumulasi sedemikian rupa sehingga, dalam rentang waktu tertentu, melahirkan sesuatu kekuatan besar yang lantas kita identifikasi sebagai sumber bencana.

Persis seperti kita juga tak pernah tahu bagaimana sentuhan tangan Tuhan ‘beroperasi’ dalam proses akumulasi semacam ini. Dan, pada tahap berikutnya, berperan dalam ‘mengarahkan’ akumulasi kekuatan ini ke satu titik dan bukan ke titik lainnya.

Sungguh tidak bijak menghakimi sesuatu yang kita tak tahu. Musa alaihi salam saja, yang notabene rasul pilihan, kalimullah (yang langsung berbicara dengan Allah), begitu tergagap-gagap dan (ternyata) harus gagal memahami bagian kecil dari realitas yang diperlihatkan seorang hamba Tuhan bernama Khidr alaihi salam. Bagaimana kita yang Rasul bukan, Nabi pun bukan; bisa tiba-tiba begitu jumawa, merasa mampu menjelaskan segalanya dan dengan ringan bisa menetapkan terdakwa?

Mestinya, daripada membuang energi mencari terdakwa, akan lebih bermanfaat bila kita mulai berupaya mengurangi budaya keserakahan ‘melahap alam’. Jelas, keserakahan dekade kitalah yang begitu besar sumbangannya dalam merangsang lahirnya bencana demi bencana. Dan, tak diragukan, sumbangan seorang presiden pasti berbeda dengan seorang petani, seorang pengusaha berbeda dengan seorang pemulung, seorang eksekutif korporasi global berbeda dengan seorang buruh pabrik di negara terbelakang!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *